Runtuhnya sebuah bangunan bertingkat di Gaza City menewaskan 21 orang. Peristiwa ini menyoroti kesulitan warga Palestina hampir setahun setelah gencatan senjata Israel-Hamas dijanjikan untuk memulai rekonstruksi.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan 21 orang tewas dalam runtuhnya bangunan pada Rabu tersebut. Namun, rencana pembangunan kembali terhenti karena pembicaraan yang gagal.
Banyak warga kemudian kembali ke ratusan ribu rumah yang rusak akibat perang. Mereka menghadapi risiko fondasi lemah dan dinding tidak stabil yang bisa tiba-tiba ambruk.
Um Mohammad Adas, yang kerabatnya termasuk korban tewas, mengatakan bangunan yang runtuh itu telah menjadi tempat berlindung pilihan terakhir.
"Sekarang, mereka terbaring di jalan tanpa rumah dan sama sekali tidak punya apa-apa," ujarnya tentang anggota keluarganya yang selamat.
Ia menambahkan bahwa pakaian yang mereka kenakan pun hasil pinjaman. Keluarga-keluarga yang tinggal di bangunan serupa mengaku tidak mampu membiayai tempat berlindung lain.
"Kami tidak punya uang untuk pergi ke tempat lain," kata Ahmad Arafat di jalan penuh puing dekat rumahnya.
"Dan kami tidak mampu membeli tenda seperti orang lain."
Warga lain yang kembali ke bangunan penuh puing dengan lantai miring dan langit-langit retak di Gaza City mengatakan mereka tidak punya pilihan.
"Yang memaksa orang tinggal di tempat ini adalah tidak ada tempat berlindung selain ini," kata Alam Zakout di luar bangunan rusak tempat ia dan keluarganya tinggal.
"Ayo, kamu bilang, aku harus pergi ke mana? Aku tidak punya apa-apa selain rumah ini."
Runtuhnya bangunan pekan ini bukan yang pertama melibatkan hunian tidak aman di Gaza.
Namun, jumlah korban tewas yang tinggi menegaskan bahaya di wilayah yang mayoritas penduduknya kekurangan tempat berlindung layak.
