Serangan udara mematikan di Gaza pada Rabu kembali menimbulkan keraguan terhadap upaya baru Amerika Serikat untuk memajukan gencatan senjata yang rapuh di wilayah Palestina.
Hanya dua hari setelah negosiator AS dilaporkan meminta Israel mengurangi serangan di Gaza, sedikitnya 10 orang tewas pada Rabu dalam dua serangan, menurut rumah sakit setempat dan Bulan Sabit Merah Palestina.
>>> Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia, Pemprov Siapkan Revisi Perda
Pasukan Israel juga melintasi garis gencatan senjata di Gaza selatan dan menahan seorang kolonel polisi Hamas pada Rabu dini hari, kata dua saksi dan seorang pejabat Hamas.
Korban dan Target Serangan
Militer Israel mengatakan salah satu serangan pada Rabu di area kamp pengungsi Nuseirat menargetkan seorang komandan Hamas yang ikut serta dalam serangan 7 Oktober 2023 di Israel selatan.
Serangan itu menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan 251 orang diculik.
Serangan kedua di area Tuffah, Kota Gaza, menewaskan empat militan Hamas yang berkumpul di sebuah kantor polisi, kata militer, mengklaim mereka berencana menyerang pasukan Israel.
Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas mengatakan serangan di Kota Gaza pada Rabu menewaskan delapan polisi dan seorang gadis berusia 13 tahun.
Dua polisi adalah perempuan, dan satu orang tewas di Nuseirat.
Pada Selasa malam, serangan Israel di sebuah kafe tepi pantai yang ramai menewaskan tujuh warga Palestina, termasuk seorang anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Negosiasi dan Ketegangan Diplomatik
Jared Kushner, negosiator AS dan menantu Presiden Donald Trump, mengadakan pertemuan maraton dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin.
Dalam pertemuan itu, ia meminta Netanyahu mengurangi serangan di Gaza, kata seseorang yang mengetahui pertemuan tersebut.

