Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB menyebutkan pada pekan pertama September terjadi runtuhnya lima tempat penampungan. Kategori ini bisa mencakup rumah mandiri atau unit di bangunan lebih besar.
Lebih dari 2.000 bangunan tambahan berisiko runtuh, menurut pernyataan Kementerian Pekerjaan Umum Palestina pada Rabu.
Bahaya di Gaza berlanjut tanpa rekonstruksi
Israel menyatakan tidak akan mengizinkan pembangunan kembali di Gaza sampai Hamas melucuti senjata.
Hal ini membuat lebih dari 1 juta orang tinggal di lokasi pengungsian yang tidak aman, menurut penilaian kerusakan bersama yang dirilis April oleh Bank Dunia dan PBB.
Banyak dari mereka berdesakan di kamp tenda luas yang minim sanitasi dasar.
Penilaian tersebut menyebut 76 persen unit hunian rusak atau hancur, dan menyebut hilangnya stok perumahan di wilayah itu "katastrofik".
"Orang-orang memilih tinggal di bangunan berbahaya karena gagasan hidup di tenda lebih buruk, dan persediaan tenda sangat sedikit jika mereka ingin meninggalkan bangunan itu," kata Shaina Low, juru bicara Norwegian Refugee Council.
"Tidak ada pasokan tenda yang masuk ke Gaza. Orang bersedia mengambil risiko karena tidak ada alternatif yang layak."
Dewan tersebut termasuk kelompok bantuan yang lama memperingatkan krisis tempat berlindung di Gaza.
Hampir tiga tahun perang telah merusak lebih dari 320.000 rumah, memengaruhi 1,7 juta dari 2,1 juta penduduk wilayah itu, menurut laporan yang diterbitkan bulan lalu.
Survei dewan menemukan 72 persen tinggal di bangunan yang mengalami kerusakan. Di satu lingkungan Gaza City yang disampel, 22 persen bangunan berisiko runtuh sewaktu-waktu.
Bangunan-bangunan itu bisa berbahaya kapan saja.