"Saya diberi tahu bahwa itu adalah kesalahan saya karena kami bermain dengan lima pemain, bahwa Ronald Koeman dan saya telah menghancurkan sepak bola Belanda," kata Van Dijk.
Meskipun performa tim kurang maksimal, strategi tersebut sebenarnya hampir membuahkan hasil hingga menit-menit akhir pertandingan.
"Rencana itu berhasil selama 89 menit, meskipun pertandingannya buruk. Kami hampir berhasil mencetak gol.
Anggapan bahwa saya menghancurkan sepak bola Belanda sama sekali tidak masuk akal. Saya tidak memutuskan itu," tegas Van Dijk.
Pemain Liverpool itu kini berpeluang mengukir rekor 100 penampilan bersama tim nasional jika diturunkan dalam empat laga UEFA Nations League menghadapi Jerman, Yunani, dan Serbia.
Kendati sempat mempertimbangkan pensiun usai kalah penalti dari Maroko, pembicaraan dengan pelatih anyar Xavi meyakinkannya untuk bertahan.
"Saya butuh liburan bersama keluarga dan kemudian pertemuan penting dengan pelatih tim nasional: Setelah 10 detik, sudah jelas bahwa saya akan melanjutkan," tambah Van Dijk.
Dukungan dan rasa percaya dari pelatih baru menjadi alasan utama bagi sang kapten untuk melanjutkan karier internasionalnya.
"Apa yang dia katakan? Bahwa saya adalah Virgil van Dijk.
Ini tentang kepercayaan, penghargaan, betapa pentingnya Anda bagi tim," tutur Van Dijk.
Ia menekankan bahwa faktor fisik dan kenyamanan bertanding tetap menjadi prioritas utamanya di level internasional.
"Secara fisik memang ada, dan selalu ada keunggulan, tetapi Anda juga ingin merasakan penghargaan dan kesenangan," pungkas Van Dijk.