unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kursi Kosong Asian Games Bikin Panitia Jepang Tak Puas dengan Penjualan Tiket
News

Kursi Kosong Asian Games Bikin Panitia Jepang Tak Puas dengan Penjualan Tiket

Kursi kosong terlihat di stadion Asian Games Aichi-Nagoya
Kursi Kosong Asian Games Bikin Panitia Jepang Tak Puas dengan Penjualan Tiket
A A Ukuran Teks16px

Panitia Asian Games Aichi-Nagoya mengakui tidak puas dengan penjualan tiket setelah kursi kosong terlihat di stadion utama dan sejumlah venue di Jepang.

Sekretaris Jenderal panitia, Satoshi Murate, menyampaikan hal itu pada Sabtu sebagai respons atas pertanyaan AFP.

Stadion Atletik Mizuho Park berkapasitas 30.000 orang tampak hanya terisi sekitar seperempat pada Jumat malam saat nomor sprint 100 meter digelar.

Bahkan peluang emas lompat galah putri bagi atlet Jepang, Misaki Morota, tidak mampu menarik penonton tuan rumah dalam jumlah besar pada awal akhir pekan.

Panitia menyebut kurang dari 60 persen tiket terjual untuk delapan cabang olahraga, termasuk sepak bola.

Jumlah serupa juga belum terjual untuk upacara penutupan yang berlangsung delapan hari lagi.

Alasan Kursi Kosong dan Tiket Tak Terpakai

"Kami tidak puas," kata Murate.

Ia menegaskan panitia akan terus berupaya memenuhi stadion, terus menjual tiket, dan memastikan pemegang tiket benar-benar hadir.

Murate menyebut lebih dari 90 persen tiket upacara pembukaan terjual sepekan sebelumnya.

Namun, ia menyalahkan ketidakhadiran penonton atas banyaknya kursi kosong saat defile atlet dan penyalaan obor Asian Games.

Menurut dia, secara keseluruhan penjualan tergolong kuat, tetapi kursi kosong di beberapa kompetisi tetap mencolok.

Ia menjelaskan salah satu penyebabnya adalah beberapa sesi memuat banyak pertandingan dalam satu hari sehingga perhatian penonton terpusat pada laga utama.

Murate juga mengatakan tiket yang diberikan kepada pemangku kepentingan, seperti sponsor, tidak selalu digunakan.

"Kursi sudah dialokasikan tetapi sebagian orang tidak bisa datang," ujarnya.

Akibatnya, sejumlah kompetisi memang memiliki kursi kosong yang mencolok dan hal itu dinilai sangat disayangkan.

Permintaan Maaf atas Kekacauan Akomodasi dan Transportasi

Murate juga meminta maaf atas kekacauan akomodasi dan transportasi.

Beberapa tim mengecam panitia, dengan Thailand menyamakan situasi itu seperti permainan "kursi musik" yang kacau.

Sementara Korea Selatan menilai panitia "layak mendapat nilai gagal".

Masalah terbesar adalah kekurangan kamar bagi 17.000 peserta.

Persoalan itu diperparah keterlambatan di bandara dan antrean berjam-jam untuk naik kapal pesiar yang difungsikan sebagai hotel terapung.

Tidak ada kampung atlet tradisional yang dibangun sebagai langkah penghematan biaya.

Para tim menginap di pondok bergaya kontainer sementara, hotel, dan kapal pesiar Costa Serena.

Layanan transportasi yang tidak menentu membuat bus peserta menuju latihan dan venue datang terlambat atau bahkan tidak muncul.

"Ada kesalahan dalam akomodasi dan transportasi, karena berbagai alasan," aku Murate.

Ia menegaskan apa pun penyebabnya, AINAGOC sebagai panitia bertanggung jawab memberikan layanan dan menyampaikan permintaan maaf tulus atas kesalahan tersebut.

Staf panitia, kata dia, bekerja setiap hari untuk mengidentifikasi penyebab setiap kesalahan dan memastikan hal itu tidak terulang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru