unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Lamine Yamal dan Filosofi Bermain untuk Kegembiraan
News

Lamine Yamal dan Filosofi Bermain untuk Kegembiraan

Lamine Yamal bermain sepakbola untuk Barcelona dan Spanyol
Lamine Yamal dan Filosofi Bermain untuk Kegembiraan
A A Ukuran Teks16px

Lamine Yamal menjadi fenomena sepakbola dunia sejak usia belia. Ia baru 17 tahun ketika membawa Spanyol juara Piala Eropa 2024.

Dua tahun kemudian, ia meraih Piala Dunia 2026. Bersama Barcelona, pemain berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa itu sudah tiga kali juara LaLiga.

Ia juga memenangi Copa del Rey dan dua kali Piala Super Spanyol. Namun Yamal bukan sekadar trofi dan kesuksesan.

Bermain untuk Kesenangan

Di tengah sepakbola yang kian menghindari risiko dari hilangnya bola, Yamal justru mengambil risiko. Ia tak takut menari dengan bola dan melewati satu, dua, atau tiga pemain lawan.

Soal senang-senang itu ia pelajari dari sepakbola jalanan di Rocafonda. Sementara taktik dan pemahaman permainan ia dapatkan dari akademi La Masia.

Dalam wawancara dengan The Guardian sebelum pertandingan lawan Inggris, Yamal mengaku menyukai sepakbola. Ia menegaskan tidak bermain demi uang, melainkan karena mencintai permainan itu.

Menurutnya, pemain yang terobsesi dengan gol atau asis tidak akan menikmati permainan. Ia bermain untuk kesenangan menggiring bola dan bermain satu atau dua sentuhan.

Yamal juga senang membuat rekan setim yang belum pernah mencetak gol bisa bikin gol. Ia bermain untuk kegembiraan penggemar dan mendengar teriakan ole dari mereka.

Pemain bernama lengkap Lamine Yamal Nasraoui Ebana itu menuturkan, ia pulang dan berkata dirinya bersenang-senang. Jika setiap pemain melakukannya, ia yakin sepakbola akan jauh lebih dinikmati.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru