Penggunaan bahan bakar minyak beroktan tinggi pada mobil hybrid tidak secara otomatis meningkatkan keawetan mesin.
Kebiasaan mengganti angka oktan lebih tinggi dari spesifikasi pabrikan dinilai tidak memberi manfaat signifikan.
Service Head Auto2000 Cilandak Sapta Agung Nugraha menjelaskan bahwa kecocokan BBM sangat krusial bagi kinerja kendaraan. Pilihan bahan bakar yang tepat akan menjaga sistem pembakaran tetap optimal.
"Secara ekonomis lebih baik menggunakan BBM yang disarankan oleh pabrikan karena sudah sesuai dengan karakter mesin," ujar Sapta.
Oktan dan Kebutuhan Mesin
Nilai Research Octane Number (RON) menunjukkan daya tahan bahan bakar terhadap knocking atau pembakaran tidak terkendali di ruang bakar.
Kebutuhan tingkat oktan setiap kendaraan bergantung pada konfigurasi dan rasio kompresi mesin.
Penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat mengganggu proses pembakaran. Pembakaran yang kurang sempurna berimbas pada efisiensi bahan bakar.
"Dampaknya pada performa mesin, karena bila BBM yang digunakan tidak tepat maka pembakaran yang dihasilkan menjadi kurang sempurna.
Hal ini tentunya akan berpengaruh kepada efisiensi kendaraan," kata Sapta.
Mesin yang dirancang untuk RON 92 tidak akan mendadak lebih awet hanya karena diisi RON 98. Dapur pacu bekerja mengikuti batas parameter teknis pabrikan.
Sebaliknya, potensi knocking lebih rawan terjadi jika kendaraan diisi BBM beroktan lebih rendah dari ketetapan. Kondisi itu dapat memicu kerusakan komponen internal mesin.
Sistem kerja RON tidak memiliki kaitan langsung dengan komponen motor listrik pada teknologi hybrid. Kebutuhan angka oktan sepenuhnya merujuk pada spesifikasi mesin pembakaran internal.
Pemilik mobil hybrid tidak perlu memakai RON 98 jika spesifikasi mesin hanya meminta RON 92. Cukup pastikan angka oktan tidak berada di bawah batas minimal pabrikan.