unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Daftar Terduga Predator Seksual Silicon Valley Beredar Terbatas
News

Daftar Terduga Predator Seksual Silicon Valley Beredar Terbatas

Ilustrasi pekerja teknologi di Silicon Valley
Daftar Terduga Predator Seksual Silicon Valley Beredar Terbatas
A A Ukuran Teks16px

Para pekerja teknologi di Silicon Valley mengedarkan dokumen internal berformat spreadsheet yang memuat daftar lebih dari seratus terduga predator seksual di industri tersebut.

Dokumen itu beredar secara terbatas dan mencantumkan nama-nama investor serta pengusaha terkemuka.

Penyebaran spreadsheet bertujuan saling memperingatkan para pekerja perempuan di lingkungan industri teknologi yang prestisius itu.

Rincian Dugaan dan Distribusi Terbatas

Daftar tersebut merinci dugaan tindakan kejahatan seksual, mulai dari pembiusan, penyerangan fisik, hingga pemerkosaan.

Pendistribusian dokumen dilakukan secara selektif guna menjaga kerahasiaan dan keamanan para korban yang menyampaikan tuduhan.

Seorang pekerja perempuan di industri teknologi mengonfirmasi keberadaan tokoh-tokoh besar dalam dokumen rahasia tersebut.

"Beberapa di antaranya adalah nama-nama yang sangat terkenal. Orang-orang yang merupakan investor terkenal," kata seorang wanita yang kariernya sedang naik daun di industri teknologi.

Ia menambahkan bahwa para terduga pelaku kerap dijumpai dalam berbagai kegiatan jejaring di kawasan tersebut.

"(Mereka) pengusaha-pengusaha yang aktif di lingkungan ini, saya pernah melihat mereka di pesta-pesta sebelumnya," kata wanita tersebut.

Para korban di industri ini umumnya enggan melaporkan tindak kejahatan tersebut ke pihak kepolisian.

Langkah hukum dinilai berisiko memicu aksi balas dendam yang dapat mengancam kelangsungan karier serta hubungan profesional mereka.

Seorang pekerja perempuan lain mengungkapkan adanya jaringan komunikasi rahasia di antara sesama korban.

"Saya bertemu dengan beberapa wanita yang menjalankan 'jaringan bisik-bisik', di dalamnya terdapat ratusan kasus," kata seorang wanita.

Kekhawatiran akan dampak terhadap karier menjadi alasan utama para korban memilih tidak menempuh jalur hukum formal.

"Saya khawatir jika mencoba mencari keadilan untuk kasus saya dan saya kalah, saya akan di-blacklist seluruh investor di kota ini," kata seorang wanita.

Fenomena ini mengemuka seiring sorotan terhadap budaya maskulin dalam industri kecerdasan buatan (AI).

Investigasi New York Times mengungkap dugaan pelecehan seksual di rumah tinggal komunal pekerja teknologi muda atau hacker house, seperti AGI House yang mencatat 37 laporan kepolisian sejak tahun 2022.

Pendiri aplikasi Zette, Yehong Zhu, mengaku mendapat saran untuk tidak melapor ke polisi saat menghadapi kasus pelecehan.

Pihak-pihak yang membantu aktivitas bisnisnya juga menolak untuk terlibat dalam penanganan tuduhan tersebut.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru