unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Didik Rachbini: Strategi Industri Nasional Harus Dirombak Total
News

Didik Rachbini: Strategi Industri Nasional Harus Dirombak Total

Ilustrasi sektor industri manufaktur nasional
Didik Rachbini: Strategi Industri Nasional Harus Dirombak Total
A A Ukuran Teks16px

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menghadapi tantangan berat untuk memulihkan kinerja sektor industri nasional yang terus melambat dalam dua tahun terakhir.

Laju pertumbuhan sektor manufaktur tercatat merosot dari 5,48 persen pada kuartal II-2025 menjadi 4,5 persen pada kuartal II-2026.

Penurunan itu dinilai menyulitkan pemerintah mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen hingga 8 persen, karena manufaktur merupakan salah satu penopang utama perekonomian.

"Bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 7% jika kondisi sektor industri lemah dan menurun seperti dua tahun terakhir ini," kata Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dipatok meningkat dari baseline 18,67 persen menjadi 21,9 persen pada 2029, seiring target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Didik menilai sasaran tersebut sulit terealisasi tanpa merombak total arah kebijakan yang berjalan dua tahun belakangan.

"Bagaimana strategi dan kebijakan yang seharusnya dilakukan ke depan dengan penyegaran Menteri Perindustrian yang baru? Jawabannya mutlak tidak menjalankan kebijakan as usual seperti selama dua tahun ini.

Kebijakan yang berjalan justru menghasilkan sektor industri yang semakin lemah dan tidak bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi," kata Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

Selain angka pertumbuhan yang tertahan di bawah 5 persen, Didik juga menyoroti ketimpangan performa antar-subsektor serta fluktuasi Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur.

Indeks tersebut sempat merosot ke level 46,9 pada Juni dan 49,8 pada Agustus, sebelum rebound ke posisi 52,4 pada September 2026.

Ia menyoroti pula rancangan anggaran negara yang dianggap belum fokus memberikan stimulasi terhadap sektor produktif.

"Desain kebijakannya dengan defisit yang cukup besar kemungkinan hanya untuk bayar utang dan mandatory ke program sosial, yang membutuhkan dana APBN dalam jumlah besar.

Jadi jawaban pertanyaan tersebut sangat tergantung apakah ada perubahan desain kebijakan atau tetap status quo seperti sekarang.

Yang jelas defisit yang besar bukan bukti dari adanya ekspansi produktif," kata Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

Berdasarkan kalkulasi Didik, dengan porsi sektor industri sekitar 19 persen terhadap PDB dan laju ekspansi hanya 4,5 persen, sumbangan sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hanya sekitar 0,86 persen.

"Di masa lalu tingkat pertumbuhan ekonomi 7% memang didukung oleh tingkat pertumbuhan sektor industri sampai dua digit.

Ini merupakan pekerjaan rumah dari penyegaran kabinet dengan hadirnya menteri perindustrian yang baru," kata Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

Pemerintah didesak segera mengevaluasi dan memperbarui regulasi industri agar target peningkatan ekonomi berdikari dapat terwujud secara realistis.

"Jika tidak ada perubahan kebijakan dari sektor ini, maka jangan harap ekonomi bisa tumbuh sampai 7-8%.

Lupakan cita-cita pemerintah yang berjanji kepada rakyat untuk mendorong ekonomi tumbuh 7-8%," kata Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru