unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Pasangan Menjauh: Alasan Psikologis di Balik Ketertarikan
News

Pasangan Menjauh: Alasan Psikologis di Balik Ketertarikan

Ilustrasi pasangan yang menjaga jarak dalam hubungan
Pasangan Menjauh: Alasan Psikologis di Balik Ketertarikan
A A Ukuran Teks16px

Ketertarikan pada seseorang yang justru menjauh dapat dialami banyak orang. Pola ini tidak selalu berarti pilihan pasangan buruk, tetapi perlu dicermati jika berulang.

Psikoterapis di Santa Rosa, California, Angela Sitka, LMFT, menjelaskan manusia bisa tertarik pada banyak orang. Namun, tidak semua perasaan mendapat respons yang sama.

Anxious attachment dan kecemasan yang menguatkan ketertarikan

Salah satu penyebab adalah anxious attachment atau gaya keterikatan cemas. Pola ini membuat seseorang lebih peka terhadap tanda penolakan.

Pesan terlambat dibalas, rencana yang dibatalkan, atau perubahan kecil dalam komunikasi dapat memicu kekhawatiran lebih besar.

Pengalaman masa kecil juga berpengaruh. Seseorang yang tumbuh dengan orangtua tidak hadir atau menjaga jarak mungkin terbiasa merasa perhatian tidak selalu tersedia.

Dalam hubungan romantis, rasa tidak pasti dapat bercampur dengan ketertarikan. Kecemasan dan keinginan mendapat kepastian terasa seperti dorongan kuat mengejar pasangan.

Sitka menyatakan kecemasan dan ketidakpastian dapat memperkuat ketertarikan dan terasa seperti percikan. Stres akibat ketidakpastian kadang disalahartikan sebagai chemistry atau gairah.

Seseorang kemudian terdorong mengejar pasangan untuk mengurangi rasa cemas.

Ketidaknyamanan pada kedekatan dan perhatian yang langka

Ketertarikan pada pasangan yang sulit dijangkau juga dapat berkaitan dengan ketidaknyamanan terhadap kedekatan. Kerentanan dan keintiman bisa terasa terlalu berat.

Menurut Morgan Hancock, LMFT, terapis di Los Gatos, California, menjaga jarak dapat mengurangi tekanan untuk membuka diri atau berkomitmen.

Hancock menyebut rasa lega bisa muncul ketika pasangan menahan diri. Rasa kendali kembali didapat dan membantu mempertahankan jarak.

Selain itu, sesuatu yang terasa langka sering dianggap lebih bernilai. Perhatian yang sulit diperoleh membuat seseorang merasa perlu berusaha lebih keras.

Sitka menyebut perhatian yang muncul setelah penantian dapat memberi perasaan istimewa. Situasi itu membuat seseorang merasa berhasil mendapatkan perhatian pasangan.

Fantasi dan penguatan intermiten

Faktor lain adalah symbolic idealization, ketika seseorang melihat pasangan sebagai simbol kualitas atau kehidupan ideal yang diinginkan.

Seseorang dapat lebih fokus pada gambaran pasangan yang dibayangkan daripada perilaku nyata dalam hubungan sehari-hari.

Menurut Sitka, kondisi ini dapat mengaburkan kemampuan menilai kualitas pasangan secara objektif dan sifat hubungan yang sedang dijalani.

Pola lain adalah intermittent reinforcement atau penguatan intermiten. Perhatian dan kasih sayang diberikan secara tidak teratur.

Seseorang mungkin menerima perhatian pada satu waktu, lalu menghadapi sikap dingin atau jarak emosional. Ketidakpastian membuat perhatian kecil terasa semakin berharga.

Setelah beberapa hari tanpa pesan, satu pesan sederhana seperti selamat pagi dapat memunculkan harapan. Seseorang bisa terus mengejar perhatian karena tidak tahu kapan perhatian berikutnya datang.

Untuk menilai kesehatan hubungan, Sitka menyarankan refleksi terhadap respons tubuh ketika pesan tidak dibalas. Seseorang juga dapat membayangkan kondisi jika berhenti menghubungi atau mencari alasan atas perilaku pasangan.

Jika pasangan tidak menunjukkan usaha mendekat dan justru menghilang, situasi itu dapat menjadi tanda penting. Hubungan sehat biasanya ditandai konsistensi dan usaha dari kedua pihak.

Menurut para ahli, hubungan yang saling memberi mungkin terasa kurang dramatis dibandingkan pola tarik-ulur perhatian. Namun, konsistensi tetap menjadi indikator hubungan yang dapat bertahan jangka panjang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru