unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Body Shaming Mertua: 4 Langkah Tegas Tanpa Memperbesar Konflik
News

Body Shaming Mertua: 4 Langkah Tegas Tanpa Memperbesar Konflik

Ilustrasi seseorang menghadapi komentar body shaming dari mertua
Body Shaming Mertua: 4 Langkah Tegas Tanpa Memperbesar Konflik
A A Ukuran Teks16px

Komentar soal berat badan atau bentuk tubuh dari mertua bisa memicu rasa malu dan menurunkan kepercayaan diri.

Meski sering dianggap candaan keluarga, ucapan semacam itu tetap berpotensi membuat penerimanya tidak nyaman.

Psikolog klinis Dr Lauren Cook membagikan empat pendekatan untuk menghadapi situasi ini tanpa memperbesar konflik.

Kenali Perasaan dan Cari Dukungan

Saat komentar muncul tiba-tiba, seseorang mungkin sulit memahami emosinya sendiri.

Dr Cook menjelaskan bahwa perkataan soal tubuh dapat membuat bingung karena disampaikan secara mendadak.

“Komentar seperti ini sering kali membuat kamu merasa tercengang dan bingung,” ujarnya seperti dikutip dari Pure Wow.

Setelah kejadian itu, beri waktu untuk menenangkan pikiran dan kenali apakah yang muncul kesedihan, kemarahan, rasa malu, atau hilangnya kepercayaan diri.

Berbagi cerita dengan teman dekat atau orang yang dipercaya juga dapat membantu.

Perspektif dari pihak yang tidak terlibat langsung dalam persoalan keluarga bisa memberi dukungan emosional yang dibutuhkan.

“Bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan hanya dengan mendengar dari orang lain bahwa apa yang terjadi memang tidak baik,” jelasnya.

Pengakuan bahwa perasaan tidak nyaman itu dapat dimengerti menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Menurut Dr Cook, dukungan semacam ini juga membantu seseorang kembali memiliki kendali atas keadaan yang dihadapinya.

Bicarakan dengan Pasangan dan Tetapkan Batasan

Setelah memahami perasaan sendiri dan memperoleh dukungan, langkah berikutnya adalah membicarakannya dengan pasangan.

Pembicaraan ini membantu pasangan memahami pengalaman yang dialami sekaligus memberi gambaran mengenai kebiasaan keluarganya.

Informasi soal latar belakang keluarga dapat menjadi konteks untuk memahami mengapa komentar tertentu sering muncul.

Meski demikian, kebiasaan atau latar belakang budaya keluarga bukan alasan untuk membiarkan perkataan yang menyakiti perasaan.

Rasa tidak nyaman tetap perlu disampaikan dan dihargai.

Dalam situasi tersebut, pasangan dapat membantu menyampaikan keberatan kepada keluarganya.

Keterlibatan pasangan juga berguna untuk membangun kesepakatan mengenai batasan yang perlu dihormati jika komentar serupa kembali terjadi.

Ucapan yang menyinggung penampilan sering memancing keinginan untuk membalas secara spontan.

Namun, Dr Cook menyarankan agar seseorang tidak langsung mengikuti dorongan emosional.

Reaksi spontan berisiko memperkeruh hubungan dan membuat seseorang mengucapkan sesuatu yang kemudian disesali.

Sebelum menjawab, pertimbangkan apakah komentar tersebut memang perlu ditanggapi.

Dalam keadaan tertentu, seseorang juga dapat memilih untuk tidak memberikan perhatian terhadap perkataan yang tidak pantas.

“Memilih cara kamu merespons adalah bagian yang memberikan pemberdayaan,” ujar Dr Cook.

Kemampuan menentukan sikap memberi kesempatan untuk mengendalikan tindakan sendiri, sehingga respons tidak semata-mata ditentukan oleh emosi sesaat atau perkataan orang lain.

Jika mertua terus memberikan komentar mengenai berat badan atau penampilan, menyampaikan keberatan secara langsung dapat menjadi pilihan.

Batasan perlu disampaikan dengan jelas agar orang lain memahami bahwa perkataan tersebut tidak dapat diterima.

Menurut Dr Cook, tidak ada satu pola komunikasi asertif yang harus selalu digunakan.

Hal terpenting adalah memastikan pesan mengenai ketidaknyamanan tersampaikan dengan tegas.

Seseorang dapat menggunakan kalimat pendek untuk menghentikan pembicaraan yang menyinggung penampilan, seperti “Komentar seperti itu tidak baik.”

Jika perlu, batasan dapat disampaikan dengan penjelasan lebih spesifik, misalnya “Tolong jangan membicarakan tubuh saya lagi. Saya tidak nyaman dengan hal itu.”

Selain pernyataan langsung, penyampaian batasan juga dapat dilakukan melalui nada bicara yang lebih santai atau humor.

Namun, pesan utama mengenai keberatan tetap harus tersampaikan dengan jelas.

Menghadapi komentar mengenai bentuk tubuh dari keluarga pasangan bukan berarti harus selalu membalas dengan kemarahan.

Ada beberapa pendekatan yang dapat dipilih sesuai keadaan, mulai dari mengelola emosi hingga meminta dukungan pasangan.

Memahami kebiasaan keluarga pasangan memang dapat membantu menjelaskan latar belakang perilaku tertentu.

Akan tetapi, pemahaman tersebut tidak mengharuskan seseorang menerima perkataan yang membuat dirinya merasa direndahkan.

Komunikasi terbuka dengan pasangan serta penyampaian batasan secara konsisten menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan keluarga.

Dengan cara tersebut, upaya mempertahankan keharmonisan tidak harus dilakukan dengan mengorbankan kenyamanan dan harga diri sendiri.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru