Cisco mengambil langkah agresif untuk meremajakan sistem perangkat lunaknya. Perusahaan menargetkan penulisan ulang hingga 98 persen basis kode lama dalam waktu dua tahun menggunakan kecerdasan buatan.
Proyek ini dipimpin oleh Paddy Krishnamurthy, insinyur berusia 27 tahun yang sebelumnya mendirikan startup penerjemah EzDubs. Ia bergabung setelah perusahaannya diakuisisi Cisco.
Meski berada di posisi hierarki organisasi yang cukup dalam, usulan Krishnamurthy untuk merombak arsitektur sistem langsung disetujui President dan Chief Product Officer Cisco, Jeetu Patel.
Patel meminta tim kecil itu bergerak cepat dan menjadikan eksperimen ini katalis perubahan kultur pemrograman di seluruh lini engineering.
Kuota Token Tanpa Batas dan Tenggat Empat Minggu
Krishnamurthy diberi tenggat empat minggu untuk membuktikan efektivitas metode penulisan kode berbasis AI. Target utamanya memperbarui 98 persen basis kode klasik Cisco dalam 24 bulan.
Untuk mendukung eksperimen, manajemen Cisco membebaskan batasan alokasi kuota inference token bagi model AI yang digunakan.
AI tidak menggantikan insinyur utama secara keseluruhan. Tim inti AI bertindak sebagai penggerak awal yang membuat draf rekonstruksi logika program.
Peninjauan akhir, pengujian modul, dan integrasi sistem tetap dipegang tim engineering utama Cisco. Pendekatan ini dirancang memangkas waktu siklus pengembangan dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari.
Fokus pembaruan bukan sekadar mereset struktur program lama, tetapi juga migrasi ke bahasa pemrograman dengan fitur memory safety.
Sebagian besar perangkat lunak jaringan klasik dibangun dengan bahasa C atau C yang rentan kesalahan manajemen memori.
Bug jenis ini sering menjadi celah keamanan serius seperti buffer overflow dan memory leak.
Dengan memanfaatkan model bahasa besar untuk menerjemahkan logika lama ke bahasa modern yang lebih aman, risiko kerentanan keamanan pada lini produk jaringan Cisco dapat ditekan.
Penggunaan agentic tool dalam penulisan ulang kode membantu mengenali pola dependen lama yang saling tumpang tindih.
Sistem otomatisasi ini mampu mengurai ketergantungan pustaka tua tanpa merusak alur kerja aplikasi secara keseluruhan.