unique visitors counter
⌂ Beranda › News › IEA Minta Tambahan Pasokan Solar di Tengah Krisis Diesel
News

IEA Minta Tambahan Pasokan Solar di Tengah Krisis Diesel

Ilustrasi pasokan solar dan diesel global di tengah tekanan pasar energi
IEA Minta Tambahan Pasokan Solar di Tengah Krisis Diesel
A A Ukuran Teks16px

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) meminta negara anggotanya mempertimbangkan pelepasan tambahan pasokan solar.

Permintaan itu disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol melalui surat kepada pemerintah negara anggota menjelang pertemuan Dewan Gubernur IEA pada 15 Oktober 2026.

IEA menilai kondisi pasar solar dunia membutuhkan perhatian segera dan kerja sama antarnegara anggota menjadi langkah penting untuk mengelola tekanan pada pasar energi.

Aksi Kolektif Maret 2026 dan Percepatan Realisasi

Dalam surat itu, Fatih Birol menyoroti aksi kolektif yang telah dimulai pada Maret 2026 dan masih berjalan.

Negara anggota yang belum memenuhi seluruh komitmen pelepasan pasokan dalam aksi kolektif Maret diminta mempercepat realisasi sisa volume yang telah dijanjikan.

IEA meminta prioritas diberikan pada solar karena bahan bakar tersebut menjadi salah satu bagian utama dari tekanan pasokan diesel global.

Beberapa negara anggota bahkan telah menyalurkan pasokan lebih besar dibandingkan komitmen awal mereka pada Maret 2026.

Seluruh anggota IEA juga diminta menilai kebutuhan tambahan pasokan berdasarkan analisis pasar solar IEA dan pernyataan para pemimpin negara-negara G7.

Jika pelepasan tambahan diperlukan, negara anggota diminta menjelaskan jumlah volume, waktu pelaksanaan, serta memastikan pasokan tersebut berada di luar komitmen sebelumnya.

IEA turut memperhatikan gangguan terhadap infrastruktur sipil dan energi di Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara internasional di Riyadh.

Situasi itu menjadi perhatian karena berlangsung ketika pasar diesel global menghadapi tekanan pasokan dan kebutuhan menjaga keamanan energi.

Pertemuan Dewan Gubernur IEA pada 15 Oktober 2026 akan mengevaluasi langkah yang sudah dilakukan dan membahas kemungkinan tindakan lanjutan.

Fatih Birol mengatakan kerja sama antarnegara anggota kembali diperlukan untuk menghadapi kondisi pasar energi yang menantang.

"Seperti yang kita lakukan pada Maret, saya percaya kita sekali lagi dapat menunjukkan kemampuan IEA untuk bertindak bersama dalam mendukung keamanan energi dan stabilitas ekonomi," kata Birol.

Harga Solar Melonjak dan Cadangan Darurat

Tekanan pasokan diesel tercermin dari kenaikan harga internasional.

Reuters melaporkan pada 21 September 2026, harga kontrak berjangka solar di Eropa mencapai rekor tertinggi, lebih dari dua kali lipat dibandingkan awal 2026.

Kondisi ini terjadi saat konflik di Timur Tengah dan Ukraina mengganggu ekspor dari produsen utama.

Gangguan kilang minyak membatasi produksi bahan bakar, sementara fasilitas pengolahan di wilayah lain berupaya meningkatkan produksi.

Namun, IEA mencatat banyak kilang telah beroperasi mendekati kapasitas maksimal sehingga kemampuan produsen menambah pasokan secara cepat terbatas.

Di Amerika Serikat, harga eceran solar melewati 6 dollar AS per galon atau setara sekitar Rp 107.553 dengan asumsi kurs Rp 17.925 per dollar AS pada September 2026.

Persediaan solar Amerika Serikat turun menjadi 107,9 juta barel per 11 September 2026, level terendah untuk periode tersebut sejak pencatatan dimulai pada 1982.

Steven Barsamian, Chief Operating Officer perusahaan penyedia layanan penyimpanan Tank Tiger, menyebut kapasitas tangki solar yang tersedia untuk disewakan di Amerika Utara dan Karibia meningkat menjadi 13 juta barrel pada Oktober 2026.

Peningkatan kapasitas kosong itu terjadi saat pelaku pasar mengalami kesulitan memperoleh pasokan untuk disimpan.

Pada 7 Oktober 2026, negara anggota IEA mendukung percepatan pelepasan cadangan minyak yang telah dijanjikan dalam aksi kolektif Maret 2026 dengan prioritas solar jika memungkinkan.

IEA mencatat sekitar 325 juta barrel minyak telah dilepas melalui aksi kolektif tersebut, dan penyelesaian komitmen yang belum direalisasikan diperkirakan dapat menambah sekitar 100 juta barrel ke pasar.

Negara anggota IEA masih memiliki cadangan minyak darurat yang dikuasai pemerintah sekitar 1,1 miliar barrel, termasuk lebih dari 200 juta barrel solar.

Birol menyebut pelepasan cadangan yang sudah dilakukan membantu menutup kesenjangan pasokan dan meredakan tekanan pasar.

Meski demikian, arus produk olahan dari Timur Tengah masih menghadapi hambatan walaupun ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut telah pulih secara signifikan.

Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia turut memperburuk situasi pasokan solar global.

Pada Senin (12/10/2026), harga kontrak berjangka gasoil ICE turun 4,6 persen menjadi 1.415 dollar AS per ton setelah muncul informasi Rusia akan memasok lebih dari 300.000 ton solar ke pasar Amerika Serikat dan global.

Analis PVM Tamas Varga mengatakan dampak langsung kesepakatan tersebut masih belum pasti karena kapasitas pengolahan minyak Rusia telah berkurang secara signifikan.

Rusia juga melonggarkan sebagian larangan ekspor solar sehingga sekitar 500.000 ton atau setara dengan 3,7 juta barrel dapat masuk ke pasar internasional.

Menurut Tamas Varga, volume tersebut setara dengan sekitar satu hari konsumsi diesel Amerika Serikat dan sekitar 13 persen dari permintaan global.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru