Patrick Stewart berpulang di usia 86 tahun di rumahnya di Los Angeles, Rabu, 28 Oktober 2026, setelah berjuang melawan Alzheimer dan demensia Lewy body. Aktor Inggris itu meninggalkan warisan dari panggung teater klasik hingga dua waralaba terbesar Hollywood.
Karier panggung Stewart dimulai jauh sebelum namanya dikenal penonton film. Selama dua dekade pertama, ia menjadi pilar utama Royal Shakespeare Company dan meraih tiga penghargaan Olivier untuk teater, di samping nominasi Emmy dan Tony.
The New York Times pernah memuji keseimbangannya antara budaya pop dan seni klasik, dengan julukan yang menggambarkan keberaniannya melangkah ke tempat yang belum pernah didatangi Shakespeare.
Picard, Pusat Moral Star Trek
Titik balik datang ketika Stewart menerima Star Trek: The Next Generation pada 1987. Serial itu tayang hingga 1994 dan membawanya ke popularitas global, berlanjut ke film-film waralaba tersebut.
Dengan aura tegas namun adil, Stewart menjadikan Kapten Jean-Luc Picard pusat moral serial itu selama tujuh musim, tanpa tergelincir ke komedi murahan atau parodi diri. Hollywood menyukainya, dan ia pun menyukai Hollywood.
Profesor X dan Sisi Santainya
Di dunia X-Men, Stewart memerankan mutan telepati Profesor Xavier berhadapan dengan sahabat dekatnya, Ian McKellen, sebagai Magneto. Keduanya juga berbagi panggung Broadway lewat Waiting for Godot dan No Man's Land.
Di balik karakter bijak dan berwibawa, Stewart digambarkan sangat santai dan tidak pernah meributkan popularitas. Ia mengisi suara The Simpsons dan Family Guy, memerankan pelayan snob di L.A. Story, dan membawakan sketsa Saturday Night Live.
Perjalanan itu dimulai dari masa muda yang jauh dari gemerlap: sempat bekerja sebagai jurnalis surat kabar, keluar sekolah di usia 15 tahun, lalu mendedikasikan hidup untuk akting. Pemuda Yorkshire yang mulai kehilangan rambutnya di usia 18 tahun itu tumbuh menjadi aktor serba bisa yang sangat dihormati.