Pertanyaan soal ekspor sawit Indonesia ke Israel kembali ramai dibahas. Data perdagangan resmi ternyata mencatat pengiriman komoditas itu memang ada, meski Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel dan konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor sawit dan produk terkait dari Indonesia ke Israel tercatat sebesar 29.605,14 ton senilai US$28,06 juta pada 2023. Angkanya menurun menjadi 22.357,01 ton senilai US$22,46 juta pada 2024, lalu 19.487,43 ton pada 2025. Untuk periode Januari hingga Agustus 2026, volume yang tercatat mencapai 10.405,54 ton senilai US$12,34 juta, dengan catatan periode delapan bulan ini belum bisa dibandingkan langsung dengan data setahun penuh.
Angka Berbeda dari WITS Bank Dunia
Database WITS milik Bank Dunia mencatat angka yang sedikit berbeda untuk kode HS 151190, yakni minyak sawit refined dan fraksi cairnya. Menurut WITS, ekspor Indonesia ke Israel pada 2025 bernilai US$21,598 juta dengan volume sekitar 19.185 ton. Perbedaan dengan data Kementan muncul karena cakupan kategori komoditas yang dihitung kedua sumber tidak sepenuhnya sama.
Bukan Hanya Sawit
Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia ke Israel pada 2025 mencapai sekitar US$250,18 juta menurut UN Comtrade sebagaimana dikutip Trading Economics. Kelompok terbesar adalah lemak dan minyak hewani-nabati beserta turunannya senilai US$56,06 juta, disusul peralatan listrik dan elektronik US$28,07 juta, kertas dan karton US$26,17 juta, alas kaki US$21,37 juta, kakao dan olahannya US$19,30 juta, serat stapel buatan US$18,95 juta, serta bahan kimia organik US$7,90 juta. Pakaian, kayu, furnitur, kopi, teh, dan rempah juga tercatat meski nilainya tidak dirinci.
Komoditas kelapa juga ikut tercatat. Pada Januari–Agustus 2026, ekspor kelapa Indonesia ke Israel mencapai 4.859,61 ton senilai US$8,45 juta, sehingga gabungan sawit dan kelapa dalam delapan bulan 2026 bernilai sekitar US$20,79 juta.
Siapa Eksportirnya? Belum Bisa Dipastikan
Bagian yang paling sering ditanyakan publik justru belum terjawab. Hingga kini belum ada dokumen publik yang bisa memastikan nama perusahaan eksportir Indonesia dalam transaksi tersebut, karena data BPS, UN Comtrade, dan WITS bersifat agregat—hanya memuat komoditas, nilai, dan negara tujuan, tanpa identitas eksportir per pengiriman. Nama-nama grup sawit besar yang beredar di media sosial pun tidak bisa dinyatakan terlibat tanpa dokumen pendukung.
Dokumen WTO Trade Policy Review Indonesia 2020 menyebutkan tidak ada larangan ekspor menyeluruh ke Israel, dan sebagian besar ekspor ke pasar itu tercatat lewat negara ketiga. Riset Bagaskara dan Santoso dari Universitas Widyatama (September 2026) mencatat Indonesia memasok rata-rata 71,1 persen kebutuhan impor sawit Israel pada 2020–2025, sementara pasar Israel sendiri menyerap kurang dari 0,12 persen total ekspor sawit Indonesia. Kesimpulannya, ekspornya tercatat nyata, tetapi identitas perusahaan, pembeli akhir, dan rute tiap pengiriman masih perlu penelusuran lanjutan.
