unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Dicetak Jadi Untaian Mi lalu Dikukus: Petulo, Jajanan Pasar Warna-Warni yang Manis dan Kenyal
Lifestyle

Dicetak Jadi Untaian Mi lalu Dikukus: Petulo, Jajanan Pasar Warna-Warni yang Manis dan Kenyal

Dicetak Jadi Untaian Mi lalu Dikukus: Petulo, Jajanan Pasar Warna-Warni yang Manis dan Kenyal
Petulo (patola) warna-warni hijau, merah muda, dan putih yang ditata di atas daun pisang. • Eka Rimawati/detikJatim
A A Ukuran Teks16px

SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Bentuknya seperti mi, tetapi ini bukan mi: petulo adalah jajanan pasar berbahan dasar tepung beras yang dicetak menjadi untaian, lalu disajikan manis dengan siraman santan dan gula merah. Kudapan tradisional ini dikenal di sejumlah daerah di Indonesia, terutama Jawa Timur, dan masih setia menempati lapak-lapak pasar tradisional di antara cenil, lupis, dan klepon.

Keunikan petulo dimulai dari dapur pembuatnya. Tepung beras, santan, dan sedikit garam dimasak sambil terus diaduk sampai adonannya menggumpal dan kalis. Begitu cukup dingin, adonan diberi warna: hijau dari pandan atau suji, merah muda, atau dibiarkan putih alami tanpa pewarna. Bahan bakunya sendiri sederhana — tepung beras, santan, air, sedikit garam, dan pewarna makanan sesuai selera.

Adonan berwarna itu kemudian ditekan melalui cetakan petulo, alat khusus dengan lubang-lubang kecil, hingga keluar untaian panjang menyerupai mi. Untaian dipotong sesuai ukuran, ditata dengan digulung atau ditumpuk, lalu dikukus sampai matang. Proses kukus ini yang memberi petulo tekstur khasnya: lembut, kenyal, dan tidak mudah hancur. Artikel sumber menggambarkan pembuatannya memang membutuhkan ketelatenan dan teknik khusus agar untaian mi-nya cantik dan kenyalnya pas — dan tidak mencantumkan takaran bahan yang pasti.

Penyajiannya berlangsung dalam mangkuk: petulo disiram kuah santan yang dimasak bersama daun pandan, sedikit garam, dan gula sesuai selera, plus juruh — gula merah yang direbus dengan air hingga larut dan mengental. Ada pula kebiasaan setempat yang menyajikannya dengan saus gula merah dan taburan kelapa parut. Hasilnya perpaduan yang sederhana tetapi khas: kenyal di mulut, manis dari gula merah, dan gurih dari santan.

Bahwa jajanan berbahan dasar tepung yang sederhana seperti petulo masih bertahan di pasar tradisional menunjukkan kuliner warisan antargenerasi ini tetap memiliki tempat di tengah masyarakat, di antara maraknya jajanan modern. Mengenalnya berarti ikut menjaga kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana — tradisi kuliner Nusantara yang sayang jika hilang ditelan zaman.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru