Ia yang ditanduk, tetapi ia pula yang merasa diserang dari berbagai arah. Begitulah posisi Hugo Samir setelah insiden dengan pemain PSM Makassar, Mufli Hidayat, pada laga Super League 2026/2027 antara Borneo FC dan PSM Makassar, Sabtu, 7 November 2026, yang berujung kartu merah.
Klarifikasi: Maaf, dan Rasa Disudutkan
Dalam klarifikasinya kepada CNNIndonesia.com, Minggu, 8 November 2026, penyerang Borneo FC itu menyampaikan maaf sebesar-besarnya. Namun ia menekankan, dirinyalah yang mengalami tandukan dan hinaan malam itu, sementara pihak yang menanduknya mengetahui persis kejadian sebenarnya di lapangan. Hugo meminta publik berpikir positif dan tidak saling menghujat.
Ia menyinggung masa lalunya yang berat, tetapi menyebut dua tahun terakhir dirinya hanya berkonsentrasi bermain sebaik mungkin dan memperbaiki diri. Ejekan soal warna kulit dan statusnya sebagai putra legenda Jacksen F Tiago, katanya, tidak pernah ia balas. Ia turut meminta maaf jika ucapannya pada laga tersebut menyakiti banyak orang.
Batas Tegas: Jalur Hukum
Satu hal ia tegaskan tidak akan ia diamkan: persoalan yang terlalu pribadi hingga menyentuh harga diri dan keluarganya. Untuk itu, Hugo menyatakan siap "pasang badan" dan meminta diproses secara hukum. Di luar itu, ia menyerahkan kebenaran pada proses dan waktu serta tidak mempermasalahkan cibiran.
Versi Mufli Berkebalikan
Persoalan ini sendiri masih menyisakan dua cerita. Mufli Hidayat sebelumnya menjelaskan awal ketegangan dengan versi sebaliknya: Hugo dinilai lebih dulu melontarkan ucapan menghina. Siapa menghina lebih dulu belum terjawab, dan belum ada pernyataan resmi dari Borneo FC, PSM Makassar, maupun operator liga mengenai insiden ini.