Program bayi tabung tidak bisa dijalankan sembarangan.
Dokter spesialis kandungan Prof Dr dr Nusratuddin Abdullah mengungkapkan bahwa ada syarat penting yang harus dipenuhi pasangan suami istri.
>>> Persija Jakarta U20 Juara EPA Super League U20 2025/2026
Menurutnya, memiliki finansial yang cukup saja belum menjamin keberhasilan. Ada faktor lain yang jauh lebih krusial, terutama usia calon ibu.
Usia Ibu Jadi Faktor Penentu
"Program bayi tabung itu yang paling penting diperhatikan sebenarnya adalah usia pasangan suami istri, terutama ibunya," kata Prof Nusratuddin dalam seminar ilmiah reproduksi di Makassar, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, secara teoritis usia di atas 35 tahun sudah harus waspada terhadap faktor reproduksi. Jika usia sudah lebih dari 38 tahun, pasangan disarankan segera mengambil keputusan.
"Terutama usia lebih dari 38 tahun itu memang sudah bisa, jika mereka mampu. Itu sebaiknya masuk ke bayi tabung," ujarnya.
Semakin bertambah usia, cadangan sel telur semakin berkurang. Hal ini otomatis menurunkan kesempatan untuk hamil secara alami.
Penyakit Tertentu Juga Jadi Pertimbangan
Prof Nusratuddin juga menyoroti kondisi medis yang menghambat kehamilan, seperti endometriosis. Penyakit ini berupa kista yang sangat merusak sel telur.
Penderita endometriosis memiliki cadangan ovarium yang berkurang. Jika cadangan ovarium masih memungkinkan, program hamil bayi tabung sebaiknya segera dilakukan.
Namun, bila hasil tes menunjukkan kista besar, operasi mungkin menjadi pilihan. Keputusan antara operasi atau bayi tabung tergantung pada cadangan sel telur pasien.
"Semakin tinggi usia, maka cadangannya semakin menurun, segerakan untuk program bayi tabung," tegasnya.
Kualitas Sperma Juga Penting
Dokter juga menyinggung faktor kesuburan pria. Standar normal sperma dinilai dari jumlah dan pergerakannya.