Para peneliti di Nanyang Technological University (NTU) Singapura berhasil mengembangkan sel surya ultra-tipis yang transparan dari material perovskit.
Inovasi ini mampu menyerap sinar matahari dan berpotensi mengubah permukaan kaca menjadi sumber energi.
>>> Human Initiative Targetkan 26 Ribu Pekurban pada Qurbanweek 2026
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ACS Energy Letters pada 17 Mei 2026 ini dikabarkan oleh Gadgets360.
Menurut laporan tersebut, teknologi ini dapat diterapkan pada gedung, mobil, dan perangkat elektronik untuk menghasilkan energi berkelanjutan.
Tim peneliti yang dipimpin Associate Professor Annalisa Bruno menggunakan teknik penguapan termal berbasis vakum. Metode ini memungkinkan penciptaan lapisan perovskit mikroskopis dengan presisi tinggi.
Dibandingkan sel surya konvensional, sel baru ini jauh lebih tipis namun tetap memiliki efisiensi konversi daya yang mengesankan.
>>> Daftar Lengkap Roster Timnas Esports Indonesia untuk Asian Games 2026
Perovskit dikenal memiliki kemampuan menyerap cahaya yang sangat baik, sehingga cocok untuk panel surya transparan.
Keunggulan utama sel surya NTU adalah tampilannya yang sepenuhnya transparan dan tanpa warna. Hal ini membuka peluang integrasi pada berbagai permukaan kaca tanpa mengganggu estetika.
Saat ini, bangunan menyumbang sekitar 40 persen konsumsi energi global. Dengan sel surya transparan, permukaan kaca pada gedung dapat diubah menjadi penghasil energi tanpa mengurangi fungsi aslinya.
>>> Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS pada Senin Pagi
Selain arsitektur, inovasi ini juga dapat digunakan pada jendela kendaraan, atap kaca, dan kacamata pintar. Semua permukaan itu berpotensi menghasilkan daya untuk perangkat elektronik.
