Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel pada Senin (19/5/2026) menyatakan bahwa setiap aksi militer Amerika Serikat terhadap Kuba akan berujung pada pertumpahan darah besar-besaran.
Diaz-Canel menyebut konsekuensinya akan sangat luas bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.
>>> Aktivitas Kegempaan Semeru Masih Tinggi, Status Tetap Siaga
"Kuba bukanlah ancaman," tulis Diaz-Canel dalam unggahan di platform X.
Pernyataan itu muncul setelah laporan Axios pada Minggu yang mengutip intelijen rahasia. Laporan tersebut menyebut Kuba telah memperoleh lebih dari 300 drone militer.
Drone itu disebut dibahas untuk digunakan menyerang pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo, kapal militer AS, dan Key West, Florida.
Kuba membantah tuduhan itu dan menilai AS sedang merekayasa kasus untuk membenarkan intervensi militer.
Di jalan-jalan Havana, sejumlah warga menyatakan akan melawan serangan apa pun meskipun kondisi ekonomi pulau itu sangat sulit.
"Saya tahu Kuba adalah negara yang kuat. Warga Kuba sangat berani dan mereka tidak akan menemukan kita tidak siap," kata Sandra Roseaux, 57 tahun.
"Jika mereka datang, mereka harus bertempur, karena Kuba akan merespons. Negaraku, dalam keadaan lapar atau bagaimanapun, akan merespons.
Lebih baik mereka tidak datang karena akan ada pertempuran," tambahnya.
Kuba, yang telah menjadi musuh komunis Washington selama puluhan tahun, semakin tertekan sejak AS memutus pasokan energinya setelah menangkap presiden sekutunya Venezuela pada Januari lalu.
Dalam beberapa pekan terakhir, bahan bakar habis dan listrik hanya tersedia satu hingga dua jam sehari.
>>> Lalu Lintas Tanker di Selat Hormuz Meningkat Setelah Capai Titik Terendah
Ketegangan antara kedua negara meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Reuters pekan lalu melaporkan, mengutip sumber Departemen Kehakiman AS, bahwa jaksa berencana mendakwa mantan pemimpin Kuba Raul Castro.