China telah menjadi mitra dagang teratas Rusia. Beijing kini menjadi pelanggan utama minyak dan gas Rusia.
Moskow memperkirakan perang di Iran akan meningkatkan permintaan. China juga mengabaikan tuntutan Barat untuk berhenti menyediakan komponen berteknologi tinggi untuk industri persenjataan Rusia.
Ushakov, asisten presiden Rusia, mengatakan ekspor minyak Rusia ke China tumbuh 35 persen pada kuartal pertama 2026 dan Rusia adalah salah satu eksportir gas alam terbesar ke China.
Selama "krisis di Timur Tengah," Rusia tetap menjadi pemasok energi yang andal dan China adalah "konsumen yang bertanggung jawab," kata Ushakov.
Putin mencatat awal bulan ini bahwa Moskow dan Beijing telah mencapai "langkah yang sangat substansial dalam kerja sama di sektor minyak dan gas."
"Hampir semua isu utama telah disepakati," kata pemimpin Rusia itu. "Jika kami berhasil menyelesaikan detail ini dan menyelesaikannya selama kunjungan ini, saya akan sangat senang."
Putin juga memuji hubungan bilateral mereka sebagai kekuatan penyeimbang yang penting dalam hubungan internasional.
"Interaksi antara negara-negara seperti China dan Rusia tidak diragukan lagi berfungsi sebagai faktor pencegahan dan stabilitas," katanya.
Moskow menyambut baik dialog China dengan AS sebagai elemen penstabil lain bagi ekonomi global, tambah Putin.
"Kami hanya akan diuntungkan dari stabilitas dan keterlibatan konstruktif antara AS dan China," katanya.
Putin mengatakan dalam pidato video sebelum kunjungan bahwa hubungan bilateral berada pada "tingkat yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya" dan memainkan peran penting secara global, demikian laporan Kantor Berita Xinhua pada Selasa.
>>> Pemprov Jatim Salurkan BLT DBHCHT Rp2,5 Miliar ke Buruh Pabrik
Ia juga menekankan bahwa interaksi antara China dan Rusia berfungsi sebagai faktor pencegahan dan stabilitas.
