Pertumbuhan Chanel lebih lambat dibandingkan pesaing Hermes yang tumbuh 9,8 persen menjadi 16 miliar euro, namun lebih baik dari divisi fesyen dan kulit LVMH (termasuk Louis Vuitton dan Dior) yang turun 5 persen menjadi 37,77 miliar euro.
Secara regional, Amerika Serikat menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan kenaikan penjualan 7,2 persen di kawasan Amerika.
Sementara Asia-Pasifik, wilayah penjualan terbesar Chanel, justru turun 0,8 persen, dan Eropa tumbuh 2,5 persen.
Chanel menaikkan harga rata-rata 3 persen secara keseluruhan dan 2 persen untuk produk fesyen pada 2025, serta berencana kenaikan serupa tahun ini.
>>> Prastawa Jadi Satu-satunya Pemain dengan Tiga Nominasi IBL Awards 2026
Perusahaan membuka 41 toko tahun lalu dan berencana menambah 30 toko tahun ini, termasuk sembilan butik fesyen di Boca Raton, Florida, serta Palo Alto dan San Diego, California.
Bisnis Chanel di Timur Tengah yang mencakup sekitar 4 persen pendapatan disebut tetap tangguh meskipun ada perang Iran.
Dampak bagi Pesaing dan Pasar
Kesuksesan Chanel dinilai bisa menjadi ancaman bagi upaya kebangkitan Dior, Louis Vuitton, dan Gucci di tengah inflasi yang mengurangi daya beli konsumen.
Analis Morgan Stanley menulis bahwa dalam konteks pertumbuhan industri yang lesu, kebangkitan Chanel harus mengorbankan pesaing.
Namun, merek mewah lain juga bisa melihat kegembiraan seputar Chanel sebagai hal positif karena menunjukkan kebangkitan mungkin terjadi.
Manajer portofolio Aviva Investors London, Harsharan Mann, menilai kesuksesan Chanel membuktikan bahwa pasar barang mewah sangat digerakkan oleh penawaran, dan kreativitas baru dapat mendorong minat serta penjualan bahkan dalam lingkungan ekonomi yang sulit.
Pengecer jalanan utama pun telah meniru gaya Chanel.
Jaket tweed palsu kuning-hitam dengan pinggiran seharga 169 dolar AS di Zara, hingga jaket krem pendek dengan kancing emas khas Chanel seharga 59,99 dolar AS di H&M, menjadi bukti pengaruh desain Blazy yang meluas.
Chanel dimiliki oleh miliarder bersaudara asal Prancis, Alain Wertheimer dan Gerard Wertheimer.
Chief Executive Officer Leena Nair mengatakan momentum kreatif terlihat di seluruh aktivitas bisnis Chanel pada 2025, dan investasi yang dilakukan pada 2024 telah menjadi fondasi bagi pemulihan penjualan.
Chanel juga menaikkan harga rata-rata 3 persen secara keseluruhan dan 2 persen untuk produk fesyen pada 2025, serta berencana kenaikan serupa tahun ini.
>>> Umat Muslim di Malaysia Rayakan Idul Adha 27 Mei 2026
Bisnis Chanel di Timur Tengah yang mencakup sekitar 4 persen pendapatan disebut tetap tangguh meskipun ada perang Iran.