Siklus super memori yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) berpotensi kehilangan momentum pada 2028.
Hal ini seiring agresifnya ekspansi produksi pabrikan chip China dan pengurangan belanja perusahaan teknologi global.
>>> Cek Penerima Bansos PKH dan BPNT Online Lewat HP, Begini Caranya
Peringatan tersebut disampaikan oleh Kyung Kye-hyun, penasihat eksekutif Samsung Electronics, dalam forum yang digelar National Academy of Engineering of Korea.
"Industri chip memori Korea Selatan tahun ini sangat kuat, dan beberapa perkiraan menunjukkan kondisi bisa lebih baik tahun depan," ujar Kyung.
"Tetapi kewaspadaan diperlukan untuk 2027, terutama 2028."
Ekspansi Kapasitas Chip China
Kyung, yang memimpin bisnis semikonduktor Samsung dari Desember 2021 hingga Mei 2024, mengidentifikasi ekspansi kapasitas manufaktur pabrikan China sebagai tantangan utama bagi produsen chip Korea Selatan.
Perusahaan China telah menguasai sekitar 20 persen pasar NAND flash. Pangsa mereka di pasar DRAM bisa melampaui 10 persen dengan dukungan ChangXin Memory Technologies (CXMT).
"Perusahaan China berencana menambah kapasitas sebesar 300.000 wafer dalam tiga tahun ke depan.
Saya khawatir hal ini memungkinkan mereka menguasai sekitar 12 hingga 13 persen pangsa pasar," kata Kyung.
Produsen chip Korea, termasuk Samsung dan SK Hynix, tengah menikmati pendapatan kuat berkat lonjakan permintaan memori untuk pusat data AI.
Namun, analis menilai perusahaan China seperti Yangtze Memory Technologies dan CXMT meningkatkan produksi NAND dan DRAM dengan memanfaatkan keunggulan biaya dan subsidi.
Pada Senin, CXMT melaporkan pendapatan 50,8 miliar yuan (US$7,4 miliar) pada kuartal pertama, naik 719 persen dari tahun sebelumnya.
>>> Perwira Tinggi NATO: Eropa Tak Perlu Khawatir dengan Penarikan Pasukan AS
Perusahaan itu memperkirakan pendapatan 110 miliar hingga 120 miliar yuan untuk paruh pertama 2026, didorong oleh kenaikan harga DRAM.