Hal ini tidak mengejutkan dari Cho yang terkenal dengan kemampuannya menyandingkan karakter hangat dengan latar distopia penuh kekerasan.
Sejak memenangkan Excellence Prize di Goldenbough Time-Leap Fiction Contest 2016 pada usia 23 tahun, Cho telah membuktikan dirinya sebagai pendongeng ulung dan produktif.
Hingga kini, ia telah menulis lebih dari selusin novel dan kumpulan cerita pendek yang disambut antusias.
Sebagai novel keempat dalam kariernya, "Teddy Bears Never Die" menunjukkan perkembangan penulis melampaui kejeniusan mudanya.
Konvergensi rumit berbagai alur cerita di klimaks novel ini menunjukkan kematangan naratif dibandingkan novel debutnya, "Shift", yang terjemahan bahasa Inggrisnya akan segera terbit setelah "Teddy Bears Never Die".
Terjemahan yang Memukau
Melalui terjemahan ahli Sung Ryu, gaya penulisan sinematik khas Cho dapat dinikmati pembaca Inggris. Terjemahan ini dengan sempurna mempertahankan pengalaman membaca kata-kata asli penulisnya.
>>> Se7en dan Lee Da-hae Umumkan Kehamilan Anak Pertama
Kejelasan, ketulusan, dan kesegaran tulisan Cho memperluas daya tariknya melampaui penggemar horor dan thriller. Pembaca yang sekadar menyukai cerita seru pun akan terpikat.
Daya tarik luas ini mungkin menjadi alasan popularitas Cho yang mendekati level selebriti.
Dalam jajak pendapat lebih dari 400.000 orang oleh situs e-commerce Yes24, Cho terpilih pertama dalam kategori "Penulis Muda yang Akan Membentuk Masa Depan Sastra Korea 2025".
Kumpulan cerita pendeknya yang paling terkenal, "Cocktail, Love, Zombies", telah terjual lebih dari 100.000 eksemplar. Antrean untuk mendapatkan tanda tangannya di acara buku seringkali berlangsung berjam-jam.
Alasan lain buku Cho laris manis mungkin karena kemampuannya menangani isu sosial yang relevan bagi pembaca utamanya: penduduk kota berusia 20-an dan 30-an.
Yamu, kota fiksi tempat "Teddy Bears Never Die" berlatar, menghadapi gentrifikasi besar-besaran yang dibungkus dengan istilah "pembersihan kota".