Novel terbaru Cho Yeeun, "Teddy Bears Never Die", berhasil meleburkan batasan genre. Karya ini memadukan elemen thriller, horor supernatural, balas dendam, misteri, hingga kisah cinta pertama dengan cemerlang.
Cerita berpusat pada Hwayoung, seorang remaja perempuan yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan setelah ibunya meninggal dan ia putus sekolah.
>>> Kolaborasi Kuliner Korea dan Kanton di Macau: Dialog Warisan dan Gastronomi
Satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah dendam. Meskipun dunia yakin ibunya meninggal karena kecelakaan, Hwayoung tahu ada yang lebih kelam di balik itu.
Satu per satu pekerjaannya habis.
Di ambang keputusasaan, ia melihat boneka beruang kotor di sebuah gang yang membawanya kembali ke masa lalu yang lebih cerah.
Tanpa berpikir panjang, ia membawanya pulang ke apartemen kumuh yang ia tinggali bersama lebih dari sepuluh orang.
Betapa terkejutnya Hwayoung ketika boneka beruang itu hidup di saat kritis dan menyelamatkannya dengan membacok penyerangnya menggunakan kapak.
Ternyata, boneka berbulu itu dirasuki oleh jiwa Doha, seorang anak laki-laki yang pernah menjadi temannya dan tidak pernah berhenti memikirkannya setelah mereka berpisah.
Malam itu, mereka membuat kesepakatan. Doha akan membantu Hwayoung melaksanakan balas dendam, sementara Hwayoung membantunya kembali ke tubuh manusianya.
Maka dimulailah petualangan yang melibatkan pembunuh, roh pendendam, seorang pembunuh bayaran, dan kunci dari dua misteri jahat yang menanti.
Kepiawaian Cho Yeeun Merajut Banyak Alur
Biasanya, novel yang mencoba merangkai terlalu banyak elemen akan berakhir dengan ulasan buruk. Namun, "Teddy Bears Never Die" tidak demikian.
Dari awal hingga akhir, Cho memegang kendali penuh atas banyak benang cerita, menjalinnya menjadi narasi yang mendebarkan dan berlapis dengan tempo yang pas.