Harga minyak terus berfluktuasi karena ketidakpastian mengenai berapa lama perang dengan Iran akan menutup Selat Hormuz, yang menghalangi kapal tanker minyak keluar dari Teluk Persia untuk mengirimkan minyak mentah.
Kenaikan harga minyak mendorong imbal hasil Treasury naik di pasar obligasi, setelah melambat sehari sebelumnya.
Imbal hasil yang meningkat telah menekan pasar keuangan global.
Selain memperlambat ekonomi dan membebani harga saham serta investasi lainnya, imbal hasil yang tinggi juga dapat membatasi pinjaman perusahaan untuk membangun pusat data AI yang selama ini mendukung pertumbuhan ekonomi AS.
Imbal hasil Treasury 10 tahun naik menjadi 4,61 persen dari 4,57 persen pada Rabu malam.
>>> Kontroversi Starbucks Korea Picu Kemarahan Global, Desakan Intervensi Markas
Angka tersebut sempat mendekati 4,63 persen pada pagi hari setelah laporan menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap lebih baik dari perkiraan ekonom.
Jumlah pekerja AS yang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu menurun secara tak terduga, mengindikasikan lebih sedikit PHK.
Namun, imbal hasil sedikit melunak setelah laporan awal yang beragam menunjukkan pertumbuhan aktivitas bisnis di sektor jasa AS lebih lemah dari perkiraan, sementara pertumbuhan di sektor manufaktur membaik.
“Dampak ekonomi yang merusak dari perang di Timur Tengah semakin terlihat dalam survei bisnis,” kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence.
Inflasi memburuk bahkan di luar kenaikan harga minyak akibat perang Iran, sementara rumah tangga AS menunjukkan kekecewaan luas terhadap ekonomi.
Kinerja Saham Lainnya
Walmart turun 7,2 persen setelah laporan labanya.
Perusahaan ritel itu mencatat pendapatan kuartal yang impresif, tetapi memberikan perkiraan laba ke depan yang lebih lemah dari ekspektasi analis.