unique visitors counter
⌂ Beranda News Latihan Militer AS-Filipina Terbesar Picu Kekhawatiran China

Latihan Militer AS-Filipina Terbesar Picu Kekhawatiran China

Latihan Militer AS-Filipina Terbesar Picu Kekhawatiran China
Personel militer AS dan Filipina dalam latihan Balikatan 2026
A A Ukuran Teks16px

Latihan militer bersama Amerika Serikat dan Filipina, Balikatan, tahun ini mencapai skala terbesar dalam sejarah.

Kegiatan yang berlangsung dari 20 April hingga 8 Mei 2026 itu melibatkan 17.000 personel dari tujuh negara.

>>> Iran Pindahkan Markas Piala Dunia dari AS ke Meksiko

IN2

Tujuh negara yang berpartisipasi adalah Filipina, AS, Kanada, Prancis, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Latihan ini berlangsung di sepanjang garis laut barat Filipina, mulai dari Laut China Selatan hingga Pulau Itbayat di utara Filipina.

Pulau Itbayat hanya berjarak 155 kilometer dari Pulau utama Taiwan. Hal ini membuat Beijing semakin waspada terhadap latihan tersebut.

in2

Skala dan Kompleksitas Meningkat

Menurut laporan South China Sea Strategic Situation Probation Initiative (SCSPI), Balikatan tahun ini mencapai rekor dalam hal skala, cakupan partisipasi, dan kompleksitas latihan.

Direktur SCSPI, Hu Bo, mengatakan bahwa skala latihan ini sangat besar dan semakin kompleks.

Hu Bo menilai latihan semacam ini pasti akan memperburuk ketidakstabilan regional.

Ia juga menyebut bahwa semakin banyak latihan yang dilakukan, semakin banyak pula respons yang akan datang dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.

Latihan Balikatan dimulai pada 1981 oleh AS dan Filipina. Selama ini, latihan tersebut menjadi simbol aliansi militer antara kedua negara.

Partisipasi Jepang dan Implikasinya

Jepang untuk pertama kalinya mengirim pasukan tempur ke Filipina sejak Perang Dunia II.

Sebanyak 1.400 personel dari Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) ambil bagian dalam latihan tahun ini.

Jepang juga mengerahkan sistem rudal darat-ke-kapal Type 88 untuk pertama kalinya di luar negeri. Sementara itu, AS menguji tembak sistem rudal jarak menengah Typhon di Filipina.

Partisipasi Jepang ini terjadi di tengah memburuknya hubungan Beijing-Tokyo. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya menyebut bahwa krisis di Selat Taiwan dapat membenarkan intervensi militer.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru