Pada tahun 2000-an, biaya produksi video musik grup seperti BigBang, Wonder Girls, dan Girls' Generation hanya berkisar 110 juta hingga 220 juta won.
Artinya, biaya produksi video musik K-pop kelas atas meningkat setidaknya lima kali lipat. Hal ini membuat persaingan semakin tidak seimbang.
Data Circle Chart menunjukkan, dari 20 lagu paling banyak diputar tahun lalu, tujuh di antaranya adalah lagu K-pop dari agensi besar seperti SM Entertainment.
Tidak ada satu pun lagu dari agensi kecil yang masuk daftar tersebut.
Sepuluh tahun lalu, situasinya berbeda.
Pada 2014, setidaknya tiga lagu dari agensi kecil masuk 20 besar tahunan, seperti 'Mr. Chu' dari Apink dan 'Something' dari Girl's Day.
Namun kini, agensi kecil yang dulu menjadi tangga bagi mimpi para trainee hampir semuanya runtuh. Kekuatan modal dan pengaruh industri menjadi faktor penentu kesuksesan grup K-pop baru.
CEO sebuah agensi menengah yang telah mengelola grup K-pop selama lebih dari 20 tahun mengatakan, dua puluh tahun lalu agensi besar menghabiskan 500 juta hingga 1 miliar won untuk memproduksi album.
>>> Zendaya Cerita Rasanya Bisa Sering Kerja bareng Tom Holland
Sekarang biaya minimalnya 5 miliar won.
Dengan biaya yang begitu besar, investasi baru hanya mengalir ke agensi besar yang memiliki modal dan jaringan luar negeri.
Akibatnya, banyak grup K-pop dari agensi kecil bubar sebelum kontrak tujuh tahun mereka berakhir, seperti boy group Luminous dan girl group Purple Kiss.
Dulu, grup seperti g. o.
d dan BTS bisa sukses meski hidup dalam kondisi serba kekurangan. Kini, cerita Cinderella semacam itu tidak lagi berlaku.