VATIKAN — Paus Leo XIV mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memperlambat dan mengatur secara ketat pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI) dalam dokumen resmi pertamanya yang dirilis pada Senin (25/5/2026).
Dalam ensiklik berjudul "Magnifica Humanitas" (Kemanusiaan yang Agung), Paus memperingatkan bahwa AI dapat menyebarkan misinformasi, memprioritaskan konflik, dan membawa dunia menuju jalur perang tanpa akhir.
>>> Pemkab Brebes Salurkan 4.116 Paket Bansos Sembako Wardoyo
Paus asal Amerika Serikat ini menyerukan agar kepemilikan data AI tidak hanya berada di tangan swasta.
Ia juga meminta para pembuat kebijakan melindungi hak-hak pekerja dan menjaga anak-anak dari dampak teknologi tersebut.
"Yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif, yang mampu memperlambat segalanya ketika semuanya berakselerasi," demikian pernyataan Paus dalam teks berbahasa Inggris.
Paus menyerukan "kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang terinformasi, dan sistem politik yang tidak mengabaikan tanggung jawabnya."
Kritik terhadap Teori Perang Adil
Ensiklik yang telah digarap sejak pemilihan Paus setahun lalu ini juga mengecam banyaknya perang yang berkecamuk di dunia.
Paus menyayangkan melemahnya organisasi multilateral dan memperingatkan bahwa keuntungan industri senjata menjadi pendorong konflik.
"60 tahun terakhir ditandai oleh konflik dengan kebrutalan yang mencengangkan, sering kali memengaruhi populasi sipil dalam skala besar," tulis Paus.
"Kemanusiaan tergelincir ke dalam budaya kekuasaan yang kejam, di mana perdamaian tidak lagi tampak sebagai tanggung jawab, melainkan sebagai interval rapuh di antara konflik," lanjutnya.
Dalam ensikliknya, Paus juga secara eksplisit menolak teori perang adil, sebuah doktrin yang telah digunakan Gereja sejak abad kelima.
Doktrin ini menyatakan bahwa perang hanya boleh dilakukan untuk mempertahankan diri dari agresi.