Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, melakukan kunjungan ke New Delhi pada akhir pekan lalu.
Kunjungan ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan bilateral yang sempat renggang akibat sengketa dagang dan perbedaan pandangan dalam kerja sama internasional.
>>> Militer AS Lakukan Serangan 'Bela Diri' di Iran, Targetkan Situs Rudal
Rubio bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi dan Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar pada Minggu (26/5/2026).
Pertemuan tersebut membahas kerja sama di bidang perdagangan, energi, pertahanan, dan keamanan maritim.
Fokus pada Perbaikan Citra Hubungan
Menurut Harsh Pant, profesor hubungan internasional di King's College London, kunjungan ini lebih dari sekadar diplomasi biasa. “Ini tentang memperbaiki optik hubungan AS-India,” ujarnya.
Pant menilai ada kekhawatiran bahwa pemerintahan Trump tidak cukup berinvestasi di India. Cara pemerintahan Trump berinteraksi dengan India juga dinilai tidak banyak membantu.
Ketegangan dagang antara Washington dan New Delhi masih berlangsung.
Meskipun kedua pihak telah mencapai kesepakatan prinsip untuk menurunkan tarif timbal balik AS terhadap India menjadi 18 persen, dari puncak 50 persen tahun lalu.
Penurunan tarif itu termasuk hukuman atas pembelian minyak Rusia oleh India. Namun, pemerintahan Trump kemudian memberikan pengecualian bagi India untuk membeli minyak Rusia.
Pengecualian ini terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz pada Februari akibat serangan AS dan Israel. Hal itu membuat pasokan energi melalui jalur vital tersebut tersendat.
Harga minyak turun seiring harapan gencatan senjata antara AS dan Iran. Namun, perundingan sebelumnya masih rapuh dan belum mencapai kesepakatan damai.
Sebelum kunjungannya, Rubio mengatakan kepada wartawan bahwa AS ingin menjadi bagian yang lebih besar dalam portofolio energi India.