Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan ini. Rupiah naik 0,16% ke level Rp18.055 per dolar AS, Jumat (10/7/2026).
Penguatan rupiah terjadi bersama mayoritas mata uang Asia lainnya yang kompak berada di zona hijau. Sentimen positif ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
>>> 5 Bendungan PSN Diresmikan, Target Produksi Padi 720 Ribu Ton per Tahun
Harga minyak mentah kembali turun ke level US$76 per barel seiring meredanya tensi tersebut. Namun secara mingguan, rupiah tercatat melemah 0,56%.
Pelemahan mingguan juga dialami baht Thailand (-0,56%) dan dolar Taiwan (-0,76%). Dengan demikian, penguatan rupiah pada Jumat lebih mencerminkan perbaikan sentimen eksternal, bukan perubahan fundamental domestik.
Para analis menilai apresiasi rupiah masih bersifat rapuh. Investor tetap mencermati arah kebijakan moneter global dan kondisi perekonomian dalam negeri.
Dari sisi global, perhatian pasar kembali tertuju pada prospek suku bunga AS.
>>> Microsoft Alihkan Obsidian ke Proyek Fallout, Sekuel Avowed Dibatalkan
Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama membuat dolar AS berpotensi tetap kuat.
Situasi ini dapat membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Meski tensi geopolitik mulai mereda, tekanan eksternal masih membayangi.
Menurut pandangan UBS, sikap The Fed yang diprediksi hawkish dan memburuknya defisit transaksi berjalan hingga 1,5% dari PDB meningkatkan kebutuhan Indonesia akan arus modal yang lebih besar.
>>> Prabowo Minta Polri, TNI, dan Kejaksaan Introspeksi Diri
Hal ini diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah ke depan.
