VATIKAN — Paus Leo XIV pada Senin (26/5/2026) menyerukan regulasi ketat terhadap kecerdasan buatan (AI) dan meminta para pengembangnya bekerja untuk kepentingan umum, bukan keuntungan semata.
Seruan itu disampaikan dalam ensiklik pertamanya yang berjudul "Magnifica Humanitas" (Kemanusiaan yang Agung).
>>> Kunjungan Marco Rubio ke New Delhi: Peluang Perbaiki Hubungan AS-India
Dokumen ini telah dinanti sejak Paus asal Amerika Serikat pertama itu menyatakan AI sebagai tantangan terbesar umat manusia saat ini.
Dalam teks tersebut, Paus Leo mengecam "budaya kekuasaan" yang mendorong perlombaan AI, terutama dalam pengembangan metode perang jarak jauh yang semakin canggih.
Ia menyatakan bahwa "tidak diperbolehkan" mempercayakan keputusan yang tidak dapat diubah dan mematikan kepada sistem AI.
Pernyataan ini berpotensi menjadi titik gesekan baru antara Paus dan pemerintahan Trump yang gencar menderegulasi pengembangan AI.
Seruan untuk Regulasi dan Pengawasan Independen
"Kecerdasan buatan kini harus dilucuti, dibebaskan dari logika yang menjadikannya alat dominasi, pengucilan, dan kematian," kata Paus dalam presentasi khusus ensiklik tersebut di Vatikan.
Ensiklik merupakan salah satu dokumen ajaran paling otoritatif yang dapat dikeluarkan seorang Paus.
Para pakar di industri teknologi, akademisi, dan moralitas Katolik mengatakan dokumen ini kemungkinan akan menjadi tolok ukur dalam perdebatan tentang AI.
Dokumen ini menjadi referensi bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan masyarakat umum.
Taylor Black, eksekutif Microsoft AI dan direktur Institut AI Universitas Katolik Amerika, mengatakan dokumen itu akan mendorong orang-orang "di garis depan alat-alat ini" untuk bertanya, "Apa artinya menjadi manusia?"
Paus Kritik Perusahaan AI meski Undang Anthropic
Peluncuran Vatikan juga dihadiri salah satu pendiri Anthropic, yang saat ini berseteru hukum dengan pemerintahan Trump terkait akses ke teknologinya.