>>> Militer AS Lakukan Serangan 'Bela Diri' di Iran, Targetkan Situs Rudal
"Kita membutuhkan suara moral yang tidak bisa dibengkokkan oleh insentif."
Para Pakar: Teks Ini Akan Jadi Tolok Ukur
Dalam teks yang metodis, Paus yang berlatar belakang matematika ini menelusuri sejarah ajaran sosial Gereja Katolik dan menerapkan konsep intinya — keadilan, solidaritas, martabat kerja, dan tujuan universal sumber daya — ke dalam revolusi digital.
"Saya yakin ini akan menjadi dokumen yang menentukan bagi era kita, dokumen yang mendalam dan visioner," kata Paolo Carozza, profesor hukum di Notre Dame Law School dan ketua Meta Oversight Board.
"Paus Leo menawarkan suara yang jelas, komprehensif, dan koheren yang mendorong kita untuk bertanggung jawab membangun dunia di mana teknologi melayani manusia, bukan merendahkan mereka," ujarnya.
Dalam bab-bab terkuatnya, Paus Leo mengecam bagaimana AI telah mempercepat "normalisasi perang" dengan membuat orang tidak peka terhadap biayanya.
Ia tidak menyebut konflik spesifik, tetapi mengutip "imperialisme yang berlawanan, antara kekuatan yang ingin mempertahankan supremasi mereka dan mereka yang bercita-cita merebut supremasi itu."
Ia menuntut transparansi dan akuntabilitas dari pengembang AI sehingga rantai komando dalam memerintahkan serangan dengan senjata AI selalu diketahui.
Ia menyatakan bahwa teori "perang adil" Gereja Katolik, yang memberikan kriteria spesifik kapan kekuatan dapat dibenarkan, kini "ketinggalan zaman" mengingat kemajuan teknologi perang.
Teks dalam Tradisi Keadilan Sosial Gereja
Paus Leo menandatangani teks itu pada 15 Mei, peringatan 135 tahun publikasi "Rerum Novarum" (Tentang Hal-Hal Baru), dokumen ajaran terpenting dari pahlawan dan senamanya, Paus Leo XIII.
Dokumen itu membahas hak-hak pekerja, batas kapitalisme, dan kewajiban negara serta pengusaha terhadap pekerja saat Revolusi Industri berlangsung.