Dalam beberapa kasus, tahanan yang mengalami tekanan justru ditempatkan di isolasi, yang dapat memperburuk perasaan terhina dan tidak berdaya.
>>> China Harap Pihak Konflik Iran Tetap Berkomitmen pada Gencatan Senjata
Setidaknya tiga dari sembilan fasilitas tempat tahanan bunuh diri kesulitan memenuhi standar pemeriksaan dalam 12 jam setelah kedatangan.
Dr. Homer Venters, mantan kepala petugas medis penjara New York City, menyebut peningkatan ini mengerikan. Menurutnya, hal itu mencerminkan kegagalan dalam pengoperasian sistem, terutama pada tahap awal penahanan.
Korban Lainnya
Leo Cruz Silva, 34 tahun, mengalami krisis kesehatan mental akut setelah ditahan karena mabuk di depan umum.
Ia berteriak, bersembunyi di bawah tempat tidur, dan melaporkan halusinasi, namun tidak mendapat bantuan cepat. Pada hari ketiga, ia ditemukan tewas di selnya.
Chaofeng Ge, warga China, tiba di fasilitas Pennsylvania dalam tekanan mental setelah mengaku bersalah atas penipuan kartu hadiah dan mencoba bunuh diri di tahanan negara.
Dalam lima hari, ia tidak mendapat perawatan kesehatan mental dan tidak bisa berkomunikasi karena tidak ada yang berbicara bahasa Mandarin.
Ia ditemukan gantung diri di bilik mandi.
Di Camp East Montana, El Paso, Texas, Victor Diaz, 36 tahun, bunuh diri di ruang perawatan medis pada Januari 2025.
Ia dipindahkan ke isolasi setelah melaporkan pelecehan oleh sesama tahanan. Inspeksi ICE menemukan 49 pelanggaran standar detensi di fasilitas tersebut.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) melalui asisten sekretaris Lauren Bies mengatakan kematian akibat bunuh diri di tahanan ICE masih sangat jarang.
Ia mengklaim staf mengikuti protokol dan tahanan menerima layanan kesehatan komprehensif.
Namun, data AP menunjukkan dari 51 kematian di tahanan ICE sejak Januari 2025, hampir seperlimanya adalah bunuh diri.
>>> Trump Nyatakan Kesehatan Sempurna Usai Pemeriksaan Fisik
Sebagian besar kematian lainnya disebabkan oleh penyebab alami yang menurut para ahli dapat dicegah dengan perawatan medis tepat waktu.