Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza yang diumumkan pada Februari lalu masih belum terbentuk.
Hingga kini, tidak ada satu pun dari lima negara yang berkomitmen mengirimkan pasukan dalam jumlah signifikan.
>>> Lima Tahun ke Depan Diprediksi Makin Panas, Bumi Lampaui Batas Aman
Jenderal AS Jasper Jeffers yang ditunjuk memimpin 20.000 personel pasukan itu mengaku belum memiliki pasukan untuk dipimpin.
Komitmen terbesar datang dari Indonesia dengan janji 8.000 tentara, namun pengiriman ditunda tanpa batas waktu.
Indonesia Tunda Pengiriman Pasukan
Indonesia menunda pengiriman 8.000 tentaranya sekitar sepekan setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Sebanyak 1.000 personel rencananya dikirim April, sisanya Juni.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Washington tampak kurang berkomitmen. "Kami belum menerima pedoman implementasi apa pun," ujarnya di parlemen.
Ia menambahkan, "Dinamika baru muncul. Karena intensitas konflik antara pasukan AS dan Iran masih sangat tinggi, Board of Peace cenderung ditinggalkan.
ISF pun ikut ditinggalkan."
Perang Iran sangat tidak populer di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar. Ekonomi tertekan akibat kenaikan harga, dan masyarakat skeptis terhadap Board of Peace.
Direktur Desk Indonesia-Timur Tengah di Center for Economic and Law Studies, Muhammad Zulfikar Rakhmat, mengatakan faktor domestik turut memengaruhi keputusan Indonesia.
"Jika Anda berbicara dengan orang di jalan, saya rasa mereka tidak percaya Board of Peace akan benar-benar membantu rakyat Gaza," katanya.
Ia menambahkan, ada kekhawatiran mengirim pasukan ke Timur Tengah saat ekonomi sedang lesu. Indonesia juga kehilangan empat penjaga perdamaian di Lebanon, yang semakin memperburuk opini publik.
Gencatan Senjata Mandek
Juru bicara Board of Peace, Brad Klapper, menolak berkomentar soal keputusan Indonesia. Ia merujuk pada pernyataan Direktur Board of Peace Nickolay Mladenov pada 21 Mei di PBB.
