unique visitors counter
⌂ Beranda News Malaysia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial

Malaysia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial

Malaysia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial
Ilustrasi aplikasi media sosial di ponsel terkait larangan di Malaysia
A A Ukuran Teks16px

Clara Koh, direktur kebijakan publik Meta untuk Asia Tenggara, memperingatkan bahwa larangan ini bisa menjadi bumerang dengan mendorong remaja meninggalkan aplikasi yang terlindungi menuju sudut internet yang tidak teratur.

Pemerintah di seluruh dunia menghadapi tekanan untuk mengatasi dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak.

Pada Maret lalu, juri di AS memerintahkan Meta dan YouTube membayar jutaan dolar sebagai ganti rugi dalam kasus yang menyebut fitur desain platform berkontribusi pada kerugian yang dialami pengguna muda.

IN2

Pandangan Beragam Keluarga Malaysia

Di Kuala Lumpur, Saravanan Ganasan dan Jayaradha Veerasamy, yang memiliki anak usia 12 dan 15 tahun, menyetujui perubahan ini.

Mereka sudah melarang anak-anak menggunakan media sosial karena dianggap belum memiliki kapasitas psikologis untuk menghadapinya.

>>> Prancis dan Inggris Cegat Kapal Tanker Rusia yang Dikenai Sanksi

in2

Perangkat dijauhkan dari kamar tidur, waktu layar dibatasi di area umum, dan putra mereka tidak diizinkan mengunci ponsel dengan kata sandi.

“Eksposur adalah yang kami takutkan,” kata Saravanan. “Eksposur yang salah akan merusak pikiran.”

Aadhavan Saravanan, 15 tahun, mengatakan dia yakin akan kecanduan media sosial jika diberi kebebasan penuh. “Media sosial itu seperti barang mewah dan bukan kebutuhan,” ujarnya.

Pasangan itu mengatakan pembatasan tersebut memaksa anak-anak mereka mengembangkan keterampilan hidup di luar jaringan.

Aadhavan membaca buku di pohon mangga halaman belakang dan memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak, sementara putri mereka memasak dan membuat kerajinan.

“Banyak orang tua sangat takut anak-anak bosan,” kata Jayaradha. “Tapi kebosanan sebenarnya sangat baik karena mereka mulai berpikir di luar kotak.”

Namun, Shaun Hew, di pinggiran Kuala Lumpur, Cheras, mengatakan pembatasan baru ini terlalu jauh.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru