Militer Amerika Serikat pada Selasa (3/6) mengumumkan bahwa Iran menembakkan rudal ke Kuwait dan Bahrain. Rudal tersebut gagal mencapai sasaran atau berhasil diintersepsi.
Dua rudal yang ditembakkan ke Kuwait hancur di tengah jalan. Sementara rudal yang diarahkan ke Bahrain berhasil ditembak jatuh oleh pasukan AS dan Bahrain.
>>> IRGC Serang Markas Armada Kelima AS dan Pangkalan Udara
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya membalas dengan serangan ke stasiun kendali darat militer Iran di Pulau Qeshm, Selat Hormuz.
Pengakuan Garda Revolusi Iran
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim serangan mereka menargetkan markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain dan satu negara lain tanpa menyebut Kuwait.
Mereka menyebut serangan itu sebagai respons atas tembakan AS ke ruang mesin sebuah kapal tanker minyak yang mencoba menembus blokade AS.
"Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika terjadi agresi, responsnya akan berbeda dan lebih keras, dan kami bertindak sesuai itu," demikian pernyataan IRGC.
CENTCOM juga mengatakan pihaknya "menembak jatuh beberapa drone" yang diluncurkan Iran untuk menargetkan pasukan AS di Kuwait.
Perundingan Gencatan Senjata Tersendat
Serangan terjadi setelah Iran berhenti berkomunikasi dengan mediator mengenai perpanjangan gencatan senjata dalam perang melawan AS dan Israel, menurut laporan dua kantor berita semi-resmi Iran, Fars dan Tasnim, yang dekat dengan IRGC.
Presiden AS Donald Trump membantah klaim tersebut dan mengatakan perundingan masih berlangsung.
"Percakapan antara kami terus berlangsung, termasuk empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu, kemarin, dan hari ini," tulis Trump di media sosial.
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam mediasi, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Associated Press bahwa Iran sama sekali tidak berkomunikasi pada Selasa setelah menyatakan gencatan senjata di Lebanon harus ditegakkan agar negosiasi dapat dilanjutkan.