Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tidak menanggapi laporan terputusnya komunikasi tersebut saat bersaksi di sidang kongres.
Ia justru menyuarakan nada optimis tentang dimensi nuklir negosiasi, namun mengingatkan tidak ada jaminan tercapainya "kesepakatan yang dapat diterima".
Tekanan Ekonomi di Iran
Sementara itu, inflasi tahunan Iran pada Mei mencapai level yang belum terlihat sejak Perang Dunia II, memperparah tekanan ekonomi yang dihadapi rakyat Iran.
Bank Sentral Iran melaporkan indeks harga konsumen mencapai 77,2 persen pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, naik 8,5 persen dari April.
Inflasi untuk kebutuhan sehari-hari dan umum—seperti obat-obatan, tarif taksi, tembakau, dan biaya komunikasi—melonjak 113,8 persen secara tahunan.
>>> Israel dan Hizbullah Saling Serang saat Diplomat Bertemu di Washington
Lembaga think tank ekonomi swasta Iran, Bamdad Institute of Economic Studies, menyebut angka tersebut sebagai "tingkat yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II".
Rekor sebelumnya terjadi pada 1942, ketika Inggris dan Soviet menginvasi Iran dan mengambil alih jalur kereta api, mengganggu pasokan makanan.
Kurangnya makanan, diperparah oleh panen yang buruk, memicu hiperinflasi dan kelaparan.
Serangan udara tahun ini telah merusak bisnis dan industri minyak Iran. Blokade AS juga menargetkan pengiriman minyak mentah Iran yang mencoba mencapai pasar internasional, sumber pendapatan utama negara.
Pendapatan pajak tertekan oleh bisnis yang masih berjuang meskipun pertempuran mereda.
Nilai tukar rial Iran, yang pada 2015 berada di 32.000 per dolar AS, kini mencapai lebih dari 1,7 juta per dolar AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan, "Kami pasti akan menghadapi harga yang lebih tinggi. Kami sedang berperang, dan kami harus menerima kesulitan ini."
Ekonom asal Teheran, Saeed Leilaz, memperingatkan inflasi tahunan Iran bisa mencapai 80 persen. "Masyarakat Iran tidak dapat mentolerir inflasi di atas 25 persen," katanya kepada AP.
Tekanan ekonomi telah memicu protes nasional di Iran pada 2017-2018, ketika kenaikan harga pangan menewaskan lebih dari 20 orang dan menyebabkan ratusan penangkapan.
Pada 2019, kenaikan harga bensin bersubsidi memicu protes yang dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang.
Protes terbaru terjadi pada awal tahun ini akibat runtuhnya nilai mata uang rial, yang merupakan demonstrasi paling intens sejak revolusi 1979.
Pemerintah Iran merespons protes Januari dengan tindakan keras yang menewaskan lebih dari 7.000 orang, menurut perkiraan aktivis.
Analis Mohsen Jalilvand memperingatkan, "Saya yakin jika Trump meninggalkan Iran tanpa kesepakatan damai formal...
>>> USTR Kutip Industri Baja Korea untuk Bela Kebijakan Tarif Trump
kemungkinan besar kita akan melihat sesuatu seperti Januari pada akhir musim panas karena situasi ekonomi dan sosial."