Tiga tahun kemudian, ia membawa belasan pengungsi Muslim Suriah dari Lesbos, Yunani.
Di bawah Paus Leo, Gereja Katolik terus menyerukan perlakuan manusiawi terhadap migran di seluruh dunia. Termasuk mengecam deportasi massal di negara asalnya, Amerika Serikat.
"Paus Leo memberi sinyal betapa pentingnya imigrasi baginya dengan melakukan dua perjalanan ini di awal masa kepausannya," kata Michele Pistone, profesor di Villanova University.
Di Canary Islands, Paus Leo dijadwalkan mengunjungi pelabuhan Arguineguín di Gran Canaria pada 11 Juni. Ia akan memberi penghormatan kepada ribuan migran yang tewas atau hilang dalam perjalanan.
Keesokan harinya, ia akan bertemu dengan migran di sebuah kamp di Tenerife.
Kepulauan ini menjadi pusat krisis kemanusiaan pada 2024, dengan kedatangan hampir 47.000 migran dari Afrika Utara dan Barat.
Termasuk beberapa ribu anak di bawah umur tanpa pendamping.
Uskup Tenerife, Mgr. Eloy Santiago, mengatakan separuh dari migran mendarat di Pulau El Hierro.
Jumlahnya hampir tiga kali lipat populasi pulau tersebut, yang membuat sumber daya setempat sangat tertekan.
"Jika sebuah perahu tiba, beberapa dokter setempat harus berlari untuk merawat mereka, dan penduduk setempat yang memiliki janji medis tidak bisa mendapatkannya," kata Santiago.
Organisasi Katolik termasuk yang membantu migran sejak mereka turun dari perahu yang penuh sesak. Kedatangan melambat tahun ini karena kontrol yang lebih ketat di sepanjang pantai Afrika.
Namun, tantangan terbesar adalah membantu mereka yang tiba sebagai anak di bawah umur, yang setelah berusia 18 tahun seringkali dibiarkan tanpa pekerjaan dan dukungan.
Jallow khawatir dengan adiknya yang akan berusia dewasa tahun depan.
Adiknya lumpuh dari leher ke bawah setelah kecelakaan tak lama tiba di Canary Islands dan kini dirawat di rumah sakit Katolik di Las Palmas.