Caya Suárez, sekretaris jenderal Caritas di Canary Islands, melihat langsung betapa rentannya migran yang menginjak usia dewasa.
>>> Presiden China Xi Jinping Akan Kunjungi Korea Utara pada 8-9 Juni
"Itu adalah momen yang sangat buruk, meskipun mereka telah menunggunya dengan harapan, karena mereka melihat masih terjebak tanpa alternatif," katanya.
Caritas berusaha membantu para pemuda ini menemukan tempat tinggal dan pekerjaan.
Beberapa dipindahkan ke Madrid, desa kecil di Galicia, dan tempat lain di daratan Spanyol dengan bantuan paroki setempat.
Namun, pemerintah daerah lain enggan menerima migran di bawah umur.
Amnesti Migran Spanyol dan Tantangan Berkelanjutan
Banyak penduduk Canary Islands merasa ditinggalkan untuk mengatasi masalah yang tak terpecahkan.
Mereka harus meregangkan sumber daya untuk migran yang berharap mencapai kemakmuran ekonomi dan kebebasan bepergian di Uni Eropa, namun akhirnya berjuang untuk bertahan hidup.
Persepsi bahwa institusi politik nasional dan Eropa melihat ini sebagai "masalah pulau" menimbulkan kelelahan di kalangan penduduk pulau yang dermawan.
Uskup setempat berharap kunjungan paus dapat menyemangati mereka kembali.
"Kata-kata paus dapat membantu agar di tengah kelelahan ini, orang-orang bisa bangkit lagi karena mereka merasa didukung," kata Santiago.
Di tingkat nasional, Gereja Katolik Spanyol mendukung kebijakan baru yang memberikan izin tinggal sementara kepada lebih dari setengah juta orang asing tanpa izin.
Banyak dari mereka berasal dari Amerika Latin dan bekerja di sektor perhotelan, pertanian, dan perawatan lansia.
"Dalam masalah imigrasi, posisi gereja bertabrakan langsung dengan posisi sayap kanan," kata Pablo Simón, profesor ilmu politik di University Carlos III di Madrid.
Hal ini menciptakan perpecahan antara gereja dan partai sayap kanan seperti Vox, yang mengkritik gereja soal imigrasi.