Hakim federal di Boston membatalkan kenaikan biaya visa H-1B menjadi $100.000 yang diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump.
Keputusan itu diambil pada Senin lalu setelah 20 negara bagian menggugat kebijakan tersebut.
>>> Bea Cukai AS dan Hakim Perdagangan Cari Jalan untuk Pengembalian Tarif
Hakim Distrik AS Leo Sorokin menyatakan bahwa kebijakan itu melanggar Undang-Undang Prosedur Administratif. Menurutnya, biaya tersebut merupakan pajak yang tidak sah karena tidak mendapat delegasi dari Kongres.
Apa Itu Visa H-1B?
Visa H-1B diciptakan melalui Undang-Undang Imigrasi 1990. Visa non-imigran ini memungkinkan perusahaan AS mempekerjakan tenaga asing dengan keterampilan khusus dan gelar sarjana atau setara.
Visa berlaku selama tiga tahun dan dapat diperpanjang tiga tahun lagi.
Jumlah visa baru dibatasi 65.000 per tahun, ditambah 20.000 untuk pemegang gelar master atau lebih tinggi.
Visa tersebut diberikan melalui sistem lotere.
Setidaknya 60% visa H-1B yang disetujui sejak 2012 untuk pekerjaan terkait komputer. Namun, rumah sakit, bank, universitas, dan berbagai perusahaan lain juga dapat mengajukan visa ini.
Perusahaan teknologi besar dan universitas sangat bergantung pada program H-1B untuk mengisi posisi terampil. Universitas juga menggunakannya untuk menarik peneliti top.
>>> Gempa 7,8 SR di Filipina Tewaskan 35 Orang, Picu Tsunami
Kebijakan Trump dan Dampaknya
Gedung Putih mengumumkan biaya $100.000 pada September tahun lalu. Sebelumnya, biaya aplikasi hanya $215 ditambah biaya pemrosesan lainnya.
Kenaikan itu berlaku hanya 24 jam setelah pengumuman.
Trump beralasan biaya tinggi melindungi pekerja Amerika dari kehilangan pekerjaan akibat tenaga asing bergaji rendah. Kritikus menilai program ini menekan upah pekerja teknologi AS.
Perusahaan seperti Tata Consultancy Services sering memasok pekerja India ke klien korporat. Hampir tiga perempat pemohon visa H-1B yang disetujui pada 2023 berasal dari India.
Dalam laporan 2020, Economic Policy Institute menemukan bahwa 60% posisi H-1B yang disertifikasi Departemen Tenaga Kerja AS memiliki upah di bawah median untuk pekerjaan tersebut.
Pendukung program berpendapat bahwa pemegang visa H-1B meningkatkan produktivitas perusahaan dan melengkapi pekerjaan warga AS.
Keputusan pengadilan ini bertentangan dengan putusan pengadilan federal sebelumnya yang mendukung kenaikan biaya dan memberlakukannya hingga September.
>>> Iran Sebut 2 Personel Militer Tewas dalam Serangan Israel
Dalam kasus Boston, negara bagian berargumen bahwa kebijakan itu menghambat perekrutan guru dan staf universitas, menghambat penelitian akademis, dan menyebabkan penurunan tenaga medis.