Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran pada Rabu, dan Iran membalas dengan menyerang Bahrain, Kuwait, serta menargetkan pangkalan udara di Yordania.
Serangan ini dipicu oleh jatuhnya helikopter Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz yang ditudingkan Presiden Donald Trump kepada Iran.
>>> AS Serang Iran Setelah Trump Tuduh Tehran Tembak Jatuh Helikopter Apache
Serangan Balasan dan Dampak Regional
Iran melancarkan serangan di Bahrain dan Kuwait. Kedua negara membunyikan alarm dan menembakkan pertahanan udara sebagai respons.
Iran juga mengatakan menargetkan pangkalan udara di Yordania yang menampung pasukan AS. Klaim ini belum dikonfirmasi pejabat Amerika maupun Yordania.
Sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari, perang telah mengguncang ekonomi global, menaikkan harga energi, dan membuat banyak kebutuhan pokok, termasuk makanan, lebih mahal.
Gencatan senjata April belum mampu diubah menjadi kesepakatan permanen, terutama saat Israel mengintensifkan kampanye militernya di Lebanon melawan milisi Hizbullah yang didukung Iran.
Serangan AS ke Iran
Pesawat tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS melakukan serangan di Iran, menargetkan "pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan situs radar pengawasan," menurut Komando Pusat militer AS.
Iran mengakui adanya serangan di sekitar Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, tetapi tidak memberikan rincian kerusakan.
"Operasi ini merupakan respons proporsional terhadap serangan baru-baru ini terhadap pasukan AS dan kapal komersial internasional yang melintasi perairan regional," kata Komando Pusat.
Trump sebelumnya dalam unggahan media sosial mengatakan Iran telah menembak jatuh pesawat tersebut saat sedang berpatroli di atas selat dan menyatakan bahwa AS "harus, sebagai keharusan, merespons serangan ini."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pasukan militer asing di dekat wilayahnya "berada dalam risiko konstan" dan kemudian bersumpah akan ada respons terhadap serangan AS yang baru.