unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Review Film: Backrooms (2026) – Horor Atmosferik yang Membingungkan
Hiburan

Review Film: Backrooms (2026) – Horor Atmosferik yang Membingungkan

Poster film Backrooms (2026) produksi A24
Poster film Backrooms
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Menyaksikan Backrooms (2026) seperti masuk ke mesin MRI: terhimpit, bising, dan tertekan, namun hasilnya tak semua orang pahami.

Kane Parsons tak menyia-nyiakan kesempatan mengangkat serial web Backrooms (2022) menjadi film panjang. Hal itu terlihat sejak detik pertama.

Will Soodik sebagai penulis memahami keinginan Parsons. Opening title merujuk pada episode pertama serial web, namun Soodik mengembangkan cerita dengan serius.

Sayangnya, Parsons selaku kreator serial web tidak banyak terlibat dalam penulisan cerita. Akibatnya, naskah Soodik terasa seperti ruangan tak berujung: ada cerita di dalam cerita.

Manusia terbiasa membuat jalur yang menjadi loop. Begitulah Soodik dan Parsons membawa penonton selama 110 menit.

Namun, film harus punya akhir. Sayangnya, konklusi yang diberikan tidak memberikan gambaran jelas atas apa yang telah ditonton.

Atmosfer dan Visual yang Mengesankan

Hal pertama yang patut dipuji adalah atmosfer. Tim desain produksi bekerja ekstra membangun set lokasi dengan bujet US$10 juta.

Tim artistik, rias, dan tata cahaya juga berperan penting. Backrooms (2026) tidak mengikuti tipikal horor gelap dan suram, namun tetap merinding.

Jeremy Cox selaku pawang kamera memberikan sorotan gambar yang pas. Ia memainkan kamera dalam berbagai mode, termasuk kamera lawas dan efek khusus.

Musik dari Parsons dan Edo Van Breemen mempertebal atmosfer creepy. Distorsi yang mengganggu hingga permainan beat memuluskan cerita.

Uniknya, scoring bisa berfungsi sebagai peringatan. Namun, andai Parsons dan Van Breemen berani menjatuhkan penonton dalam sunyi senyap, teror psikologis bisa lebih depresif.

Aktor dan Karakter

Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve tampil prima meski karakter mereka melakukan tindakan bodoh khas horor. Ejiofor menanggung sebagian besar drama, ketakutan penonton muncul seiring kecemasannya.

Karakter Mary (Reinsve) punya arti penting, namun Soodik terlalu sibuk mengejar gaya edgy. Parsons terlalu fokus memastikan kesamaan dengan serial web.

Hasilnya, Backrooms (2026) ditutup dengan konklusi berbeda untuk tiap penonton. Ada yang pulang dengan pemahaman penuh, separuh, atau penuh pertanyaan.

Seperti kata Phil (Mark Duplass) kepada Mary, Kane Parsons merespons dengan "itu bukan wewenang saya untuk menjelaskan" dan meninggalkan pertanyaan menggantung.

📰 Update Terbaru