Sikap Hati-hati Beijing
Pemerintah China sebelumnya mengkritik eksklusivitas G7 sebagai peninggalan Perang Dingin. Namun, dalam pernyataan terbaru, Kementerian Luar Negeri China mengatakan G7 harus menjadi katalisator solidaritas, bukan amplifier perpecahan.
Analis Wang Zichen menilai Beijing waspada terhadap G7 karena dianggap sebagai kekuatan Barat yang dipimpin AS.
Meski demikian, China tidak bisa mengabaikan G7 yang masih memiliki konsentrasi kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan finansial yang signifikan.
China sebagai Ancaman Kohesi G7
Beberapa analis berpendapat bahwa menerima China justru dapat merusak kohesi G7. Kirton menyebut China sebagai "kuda Troya" yang bisa memecah belah anggota untuk mendapatkan keistimewaan bilateral.
Chris Alden dari London School of Economics menambahkan bahwa kehadiran China akan membuat G7 sulit berfungsi.
Perbedaan sistem pemerintahan dan kepentingan China dengan negara demokrasi G7 menjadi hambatan utama.
Pelajaran dari Rusia
Ekspansi terakhir G7 dengan menerima Rusia pada 1998 berakhir buruk. Rusia diisolasi setelah aneksasi Krimea pada 2014, yang kemudian berujung pada perang skala penuh sejak 2022.
>>> Anthropic Hentikan Akses Model AI karena Perintah Keamanan Nasional AS
Pengalaman itu membuat para pemimpin G7 enggan mengambil risiko dengan negara yang tidak sepenuhnya demokratis. Kirton menegaskan bahwa mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.