Pertemuan para pemimpin G7 di Evian-les-Bains, Prancis, kembali memicu perdebatan tentang ketidakhadiran China. Sejak awal pembentukan kelompok ini pada 1975, China tidak pernah diundang.
Namun, dengan bobot ekonominya saat ini, banyak pihak mempertanyakan relevansi G7 tanpa Beijing.
>>> Negosiator Qatar Terbang ke Teheran untuk Finalisasi Kesepakatan Akhiri Perang dengan AS
Kekuatan Ekonomi China Tak Terbantahkan
Jika hanya berdasarkan ukuran ekonomi, China layak menjadi anggota G7. Ekonominya kini melampaui Jerman, Jepang, Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada, hanya kalah dari Amerika Serikat.
John Kirton, pakar G7 dari Universitas Toronto, mengatakan bahwa China telah berubah dari "panda kecil yang jinak" pada 1975 menjadi "naga global yang besar."
Menurutnya, banyak yang bertanya apakah komunitas global akan lebih baik jika China bergabung dengan G7.
Kendala Demokrasi dan Kebebasan
Namun, G7 memiliki aturan tidak tertulis: hanya untuk negara demokrasi. Deklarasi pendiri pada 1975 menyebutkan komitmen terhadap masyarakat demokratis, kebebasan individu, dan kemajuan sosial.
China di bawah kepemimpinan Mao Zedong maupun Xi Jinping tidak memenuhi kriteria tersebut. Berbagai indeks kebebasan sipil dan pers menunjukkan China tertinggal jauh dari negara G7.
China Menjadi Isu Utama G7
Meski tidak hadir, China tetap menjadi topik utama.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyediakan waktu khusus bagi para pemimpin untuk membahas rebalancing perdagangan dengan China, terutama terkait kekhawatiran banjirnya mobil dan produk China yang dapat merusak industri G7.
Hubungan antara Trump dan pemimpin G7 lainnya memang tegang, tetapi China bisa menjadi isu pemersatu. "Mereka setuju bahwa China adalah masalah," kata Cédric Dupont dari Geneva Graduate Institute.