unique visitors counter
⌂ Beranda › News › G7 Tanpa China: Keputusan yang Tepat atau Kesalahan Strategis?
News

G7 Tanpa China: Keputusan yang Tepat atau Kesalahan Strategis?

Para pemimpin G7 berfoto bersama di KTT Evian-les-Bains
Para pemimpin G7 berfoto bersama di KTT Evian-les-Bains
A A Ukuran Teks16px

Pertemuan para pemimpin G7 di Evian-les-Bains, Prancis, kembali memicu perdebatan tentang ketidakhadiran China. Sejak awal pembentukan kelompok ini pada 1975, China tidak pernah diundang.

Namun, dengan bobot ekonominya saat ini, banyak pihak mempertanyakan relevansi G7 tanpa Beijing.

Kekuatan Ekonomi China Tak Terbantahkan

Jika hanya berdasarkan ukuran ekonomi, China layak menjadi anggota G7. Ekonominya kini melampaui Jerman, Jepang, Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada, hanya kalah dari Amerika Serikat.

John Kirton, pakar G7 dari Universitas Toronto, mengatakan bahwa China telah berubah dari "panda kecil yang jinak" pada 1975 menjadi "naga global yang besar."

Menurutnya, banyak yang bertanya apakah komunitas global akan lebih baik jika China bergabung dengan G7.

Kendala Demokrasi dan Kebebasan

Namun, G7 memiliki aturan tidak tertulis: hanya untuk negara demokrasi. Deklarasi pendiri pada 1975 menyebutkan komitmen terhadap masyarakat demokratis, kebebasan individu, dan kemajuan sosial.

China di bawah kepemimpinan Mao Zedong maupun Xi Jinping tidak memenuhi kriteria tersebut. Berbagai indeks kebebasan sipil dan pers menunjukkan China tertinggal jauh dari negara G7.

China Menjadi Isu Utama G7

Meski tidak hadir, China tetap menjadi topik utama.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyediakan waktu khusus bagi para pemimpin untuk membahas rebalancing perdagangan dengan China, terutama terkait kekhawatiran banjirnya mobil dan produk China yang dapat merusak industri G7.

Hubungan antara Trump dan pemimpin G7 lainnya memang tegang, tetapi China bisa menjadi isu pemersatu. "Mereka setuju bahwa China adalah masalah," kata Cédric Dupont dari Geneva Graduate Institute.

Sikap Hati-hati Beijing

Pemerintah China sebelumnya mengkritik eksklusivitas G7 sebagai peninggalan Perang Dingin. Namun, dalam pernyataan terbaru, Kementerian Luar Negeri China mengatakan G7 harus menjadi katalisator solidaritas, bukan amplifier perpecahan.

Analis Wang Zichen menilai Beijing waspada terhadap G7 karena dianggap sebagai kekuatan Barat yang dipimpin AS.

Meski demikian, China tidak bisa mengabaikan G7 yang masih memiliki konsentrasi kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan finansial yang signifikan.

China sebagai Ancaman Kohesi G7

Beberapa analis berpendapat bahwa menerima China justru dapat merusak kohesi G7. Kirton menyebut China sebagai "kuda Troya" yang bisa memecah belah anggota untuk mendapatkan keistimewaan bilateral.

Chris Alden dari London School of Economics menambahkan bahwa kehadiran China akan membuat G7 sulit berfungsi.

Perbedaan sistem pemerintahan dan kepentingan China dengan negara demokrasi G7 menjadi hambatan utama.

Pelajaran dari Rusia

Ekspansi terakhir G7 dengan menerima Rusia pada 1998 berakhir buruk. Rusia diisolasi setelah aneksasi Krimea pada 2014, yang kemudian berujung pada perang skala penuh sejak 2022.

Pengalaman itu membuat para pemimpin G7 enggan mengambil risiko dengan negara yang tidak sepenuhnya demokratis. Kirton menegaskan bahwa mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru