WASHINGTON — Amerika Serikat pada Senin (16/6) menyatakan bahwa kapal-kapal akan melintas bebas biaya di Selat Hormuz berdasarkan kesepakatan damai Iran yang ditandatangani Presiden Donald Trump.
Pemerintah AS menegaskan Teheran harus memenuhi komitmennya sebelum mendapatkan manfaat ekonomi.
>>> Cara Daftar Mudik Gratis Bank Mandiri 2026 via Livin' by Mandiri
Kesepakatan itu mencakup kemungkinan dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS untuk Iran yang porak-poranda akibat perang.
Namun, pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan dalam konferensi pers bahwa pencairan dana akan "terkait dengan kinerja."
Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara elektronik pada Minggu (15/6).
"Presiden ingin menandatanganinya secara pribadi karena ia ingin menunjukkan dedikasinya pada proses ini," ujar salah satu pejabat AS yang enggan disebut namanya.
Vance mengakui bahwa kesepakatan awal yang singkat itu menunda isu-isu paling pelik, terutama program nuklir Iran.
"MoU ini hanya sekitar satu setengah halaman, jadi dokumen yang sangat umum," kata Vance kepada CNN.
Normalisasi Selat Hormuz dalam 'Beberapa Minggu'
Penandatanganan akan memulai periode 60 hari di mana Iran dan AS akan berusaha merundingkan kesepakatan damai secara penuh.
"Kami ingin menempatkan diskusi nuklir di depan," kata seorang pejabat AS.
Namun, kemacetan di Selat Hormuz menjadi prioritas langsung karena dampak ekonomi global akibat lonjakan harga minyak.
>>> Kesepakatan Akhir Perang Iran-AS: Apa yang Perlu Diketahui
Vance mengatakan kepada CNBC bahwa ada pemahaman dengan Iran bahwa selat tersebut akan dibuka kembali "secara bebas tol untuk jangka panjang."
Trump sendiri mengatakan selat kritis itu akan "terbuka sepenuhnya" mulai Jumat, tetapi menambahkan masih ada "perburuan" untuk memastikan ranjau telah dibersihkan.