Iran dan Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari lalu. Namun, isi detail perjanjian masih dirahasiakan.
Nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan ini akan mulai diberlakukan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dan pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS.
>>> Trump Tiba di KTT G7 dengan Kesepakatan Iran, Pemimpin Dunia Waspada
Demikian disampaikan pejabat Pakistan kepada Associated Press.
Setelah itu, kedua pihak akan menjalani negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir Iran dan potensi pencabutan sanksi.
Periode ini bisa diperpanjang jika ada kemajuan, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Dampak pada Pasar Energi
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali pada Jumat mendatang setelah perjanjian ditandatangani. Hal ini langsung mendorong penurunan harga minyak dan kenaikan pasar saham.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan selat oleh Iran sebelumnya memicu kenaikan harga bahan bakar dan inflasi di AS hingga 4 persen.
Blokade AS yang diterapkan sejak gencatan senjata awal pada 7 April telah memutus pendapatan ekspor minyak Iran, memperparah ekonomi negara itu yang terpukul perang.
Negosiasi Nuklir dan Sanksi
Pertanyaan utama adalah apakah kesepakatan baru ini membawa kedua pihak lebih dekat dibandingkan negosiasi sebelum perang.
AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada Februari dengan alasan kekhawatiran program nuklir Iran.
Teheran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan damai. Tuntutan utama AS adalah penghapusan atau pengenceran uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.
Iran sebelumnya menolak persyaratan AS terkait stok tersebut.
Iran juga menuntut pencabutan sanksi internasional dan pembebasan aset miliaran dolar yang dibekukan.