Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa (17/6) menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat mensyaratkan Israel menarik diri dari Lebanon.
Syarat itu telah ditolak Israel dan berpotensi menggagalkan perjanjian yang belum dipublikasikan secara resmi tersebut.
>>> Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Masih Sepi Meski Ada Kesepakatan Iran-AS
Araghchi mengatakan pendudukan Israel di Lebanon selatan akan melanggar kesepakatan. "Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir," ujarnya.
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kesepakatan itu tidak menyerukan penarikan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (16/6) menyatakan Israel akan tetap di Lebanon "selama diperlukan".
Ketegangan Seputar Kesepakatan
Perundingan untuk mengakhiri perang telah diwarnai perbedaan pendapat serupa sebelumnya, yang menyebabkan gencatan senjata berkepanjangan namun rapuh dan belum berujung pada penghentian permanen permusuhan.
Selat Hormuz, jalur air vital bagi pasokan energi dunia, praktis masih tertutup.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan upacara penandatanganan kesepakatan akan berlangsung Jumat (20/6) di resor Bürgenstock dekat kota Luzern.
Lokasi tersebut diusulkan oleh mediator Pakistan dan Qatar bersama AS dan Iran.
Posisi Israel dan AS
Pakistan, mediator utama, mengatakan kesepakatan menyerukan penghentian operasi militer termasuk di Lebanon, seperti yang lama ditegaskan Iran. Namun seruan Araghchi untuk penarikan Israel menambah kerumitan baru.
Israel menghadapi dilema: berusaha melemahkan kemampuan militer Hizbullah tanpa menggoyahkan kesepakatan yang didukung sekutu utamanya, AS.
Israel menginvasi Lebanon selatan setelah Hizbullah menembakkan roket melintasi perbatasan pada minggu pertama perang.
Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan hampir 4.000 orang, termasuk ratusan warga sipil, dan mengungsikan lebih dari 1 juta orang.
