Seorang sumber industri perjalanan lain yang meminta anonimitas mengatakan banyak wisatawan muda Korea memisahkan pilihan perjalanan dan gaya hidup dari isu politik.
"Banyak wisatawan muda hanya melihat China sebagai destinasi menarik dengan atraksi modern, makanan enak, dan biaya yang relatif terjangkau," kata sumber tersebut.
"Isu politik dan keputusan perjalanan sering dipandang terpisah."
Makanan dan Ritel
Pergeseran ini juga terlihat di sektor makanan dan ritel. Jaringan hot pot China, Haidilao, menjadi salah satu contoh paling sukses.
Haidilao Korea mencatat pendapatan tahun 2025 melonjak 50,9 persen year-on-year menjadi 117,7 miliar won ($78 juta), naik dari 78 miliar won pada 2024, menurut laporan keuangannya ke Financial Supervisory Service.
Laba operasinya melonjak 84,3 persen menjadi 20,2 miliar won dari 10,96 miliar won.
Merek teh China juga mendapatkan momentum. Chagee baru-baru ini membuka toko di Korea dan menarik antrean panjang pelanggan yang ingin mencoba produknya.
Tidak seperti masa lalu, banyak merek China kini secara terbuka menonjolkan identitas China mereka daripada merendahkannya.
Chagee telah mendapat pengakuan di kalangan konsumen Korea sebelum debut lokalnya setelah Jang Wonyoung dari grup K-pop IVE membagikan merek tersebut awal tahun ini.
>>> Oktoberfest Munich Resmi Hadir di Seoul pada September 2026
Barang Konsumen
Barang konsumen juga menunjukkan tren serupa.
Labubu, karakter dari perusahaan mainan China Pop Mart, menjadi salah satu barang koleksi paling populer di kalangan konsumen Korea tahun lalu.
Edisi terbatas cepat habis dan harga jual kembali melonjak seiring ledakan permintaan. Namun, demam ini tampaknya mereda secepat kemunculannya.
"Tahun lalu semua orang mati-matian ingin mendapatkan Labubu," kata seorang gadis 13 tahun yang lewat di depan toko Pop Mart di Seoul.
