Pada suatu sore baru-baru ini di Yongsan I'Park Mall di Seoul, puluhan pelanggan mengantre untuk membeli minuman dari jaringan teh China, Chagee.
Di dalam mal yang sama, pembeli masih melihat-lihat rak yang dipenuhi Labubu, boneka koleksi unik yang memicu demam belanja di kalangan konsumen muda tahun lalu.
>>> Panda Kembar Everland Jadi Pemandu Wisata Baru Korea
Pemandangan ini menyoroti perubahan signifikan dalam lanskap konsumen Korea.
Meskipun sentimen anti-China sering muncul dalam diskusi politik dan diplomatik, makanan, mainan, destinasi wisata, dan merek gaya hidup China semakin menjadi bagian akrab dari kehidupan sehari-hari konsumen Korea.
Para pakar industri mengatakan tren ini didorong oleh media sosial, perjalanan, dan pertukaran budaya global yang membentuk keputusan pembelian.
Perjalanan Memicu Tren
Tren ini terutama terlihat dalam sektor perjalanan.
Menurut agen perjalanan Yellow Balloon, China menyumbang 25 persen pemesanan untuk liburan Mei tahun ini, hanya di belakang Jepang dengan 27 persen.
Perusahaan mengaitkan popularitas ini dengan kedekatan China, biaya perjalanan yang relatif terjangkau, dan minat yang tumbuh pada destinasi perkotaan.
Heo Yul, kepala tim promosi Yellow Balloon, mengatakan produk perjalanan China dulu identik dengan destinasi pemandangan yang disukai wisatawan usia lanjut.
Namun, kini semakin banyak wisatawan muda yang memesan perjalanan ke kota-kota besar.
"Wisatawan yang menggunakan paket tur ke China dulu mengunjungi destinasi seperti Zhangjiajie atau Gunung Paektu dan sebagian besar populer di kalangan wisatawan paruh baya," kata Heo.
"Tapi baru-baru ini, kami melihat lebih banyak pelanggan muda memesan perjalanan ke kota besar dan modern seperti Shanghai, Beijing, dan Qingdao."
Dia mengatakan permintaan perjalanan semakin didorong oleh konsumen muda yang mencari restoran trendi, atraksi menarik secara visual, dan pengalaman yang ramah media sosial.
